Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis
sukses muda broo.. ayok ikutan buat arkel di babe 1 artikel 50 ribu loo

Wednesday, August 30, 2017

HARUSKAH SAHABAT JADI CINTA


CAPTER  1
 
Tiitttt….tiiittt….
Suara klakson mobil menyentuh gendang telinga Kanya yang masih merapikan rambut panjangnya yang bergelombang di depan cermin, ia tersenyum sendiri seperti seorang yang lagi berpose. Suara klakson kembali terdengar dan menyadarkan Kanya.Kanya pun bergegas mengambil tasnya dan berlari menuju sumber suara.
“Lo, lama banget sih?!” kata Wilson dengan wajah yang tak bersahabat.
“Sorry, lo kan tahu kalau saya dandan lama, dan lo kan juga sudah biasa nunggu.” Kata Kanya sambil membuka pintu mobil.
“Dandan, kayak orang cakep aja lu”
“Emang gue cakep, emang lu buruk rupa”
Wilson tak membalas ejekan Kanya karena dia tahu pasti dia akan kalah pada ujungnya.
Wilson dan Kanya adalah sepasang sahabat yang dipertemukan saat mereka menjadi murid baru di salah satu sekolah elit yang berada di wilayah Praya, Lombok tengah.
Teman sekolahnya selalu mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih karena mereka selalu bersama dari kelas X-XI. Namun, ketika mereka ditanya tentang hubungan mereka hanya menjawab “pacaran tidak ada dalam kamus hidup kita”. Kata itu seumpama semboyan untuk simbol persahabatan mereka.
“Ayo turun, udah nyampe kali” ajak Wilson
“Wil, gue belum ngerjain tugas yang diberikan sama pak Hanif, lo udah belim?”
“Emang ada tugas ya, ko gue gak tahu ya?” kata wilson heran. “kamu gimana sih, nanti kita dihukum lagi seperti minggu lalu, malu tahu!” cetus Kayla.
“Udah gak usah khawatir, jam pelajaran pah Hanif kan setelah keluar main, jadi jangan khawatir kita masih punya banyak waktu” jelas Wilson
“Banyak waktu untuk mengerjakan tugasnya bersama?” tanya Kanya
“Tidak!”
“Terus?”
“Banyak waktu untuk nyontek! Ha..ah..”
 Wilson pun tertawa, tapi tawanya tak disambut oleh Kanya yang menganggap leluconnya tidak lucu, dan membayangkan kejadian yang menimpa mereka minggu lalu saat tidak mengerjakan tugas menyelesaikan soal kimia oleh pak Hanif.
“ayo turun, saya janji hukuman minggu kemarin adalah hukuman terakhir untuk kita!” janji Wilson, lalu Wilson mengelus rambut Kayla. Kayla menatap mata Wilson yang nampak serius dengan apa yang sudah ia katakan.
“Promise?”
“Promise”
Jari kelingking mereka pun bersatu.
***
“Giman perasaannya sekarang kay? Lega ya” kata Wilson dengan senyum mengembang melihat raut wajah keyla yang berubah dari keadaan tadi pagi.
“ Ya lah, saat terbebas dari ancaman hukuman yang super memalukan, siapa yang akan lega menjalankan  hidup selanjutnya” dengan senyum mengembang tak karuan.
“Heh, tapi BTW Wil, gimana caranya lo nyelesaiin tugas dengan soal yang super rumit itu hanya dengan beberapa menit?” tanya Kanya heran. “gue kan pintar jadi tugas segitu mah gampil,,,pil,,, pil” sambil menunjukkan ujung jari kuku telunjuknya.
“Sok lu, heh dengar ya  selama satu tahun gue kenal dan bareng duduk sama lo, lo selalu tidur kalau dijelasin materi kimia sama pak Hanif  termasuk dalam kategori guru killer itu. Jadi bagaimana mungkin seorang Wilson bisa mengerjakannya, jawab jujur!” kata kanya
“Ok ok, gue ngaku kalah harus debat sama cewek ratu bawel kayak lo. Nanti gue jelasin apa yang sebenarnya sudah terjadi. Sekarang kita makan dulu,  kelas sudah kosong lo masih aja ngomel. Lo mau pulang bareng gue?” kata Wilson
“yalah, kan biasanya gitu, kenapa harus nanya coba”
“kirain mau diantar pulang sama kakak kelas itu lagi” ledeknya.
“mulai lagi, udah deh” Kanya menarik tangan Wilson, meski Wilson memiliki struktu  yang lebih besar dari pada Kanya, namun Kanya mampu menarik tubuh Wilson walau hanya dengan gerakan terbata-bata karena Wilson seperti enggan mengangkat kakinya untuk melangkah.
“Ayo dong  Wil, berat tahu badan lo, katanya lo laper,  mana mobil lo gue gak tahu parkir dimana, Wil?!” omel Kanya.
“Mobil gue di sebelah sana bego, kan tadi kita turunnya disana” sambil menunjuk tempat parkir tempat dimana Wilson memakirkan mobilnya.
“ya udah, sekarang lo sendiri ke parkiran gue tunggu di sini, ok” sambil menyodorkan jempolnya ke hidung Wilson. Dengan cepat Wilson menepis tangan Kanya dari wajahnya. “ cepet!”
“ya bawel!”  Wilson kemudian menuju ke parkiran. Kanya pun menunggu sambil memainkan gadgetnya.
“Hay Kanya?” terdengar suara yang sangat familiar di telinganya, suara  yang sangat ia nantikan seharian ini. Suara yang terdengar berat namun mampu membuat semua orang betah mendengarnya. Kanya menoleh, dan menemukan seorang laki-laki bertubuh tegap berwajah tampan, putih dengan tinggi lebih tinggi dari tubuhnya.
“kak Hendra, hai kak!” sapanya.
Detak jantung Kanya pun bekerja lebih cepat dari biasanya. Hal tersebut merupakan hal yang biasa dia alami ketika bertemu dengan Hendra, kakak kelas yang mampu membuatnya merasakan hal yang berbeda.
“Lagi nungguin siapa?” tanyanya
“Nungguin Wilson”
“Pulang bareng Wilson ya”
“Ya! dia pulang bareng gue, ayo Kan masuk!”  tiba tiba Wilson sudah ada di dalam mobilnya, dan berada di depan Kanya dan Hendra serta langsung menjawab pertanyaan Hendra sebelum Kanya menjawabnya.
“Mmmm,,,, ya kak gue pulang bareng sama Wilson, duluan ya kak” kata Kanya dengan nada gugup dan langsung masuk kemobil.
“Ya, hati-hati ya, Dik”
Dik, kata itu sungguh tidak enak didengar di telinga Wilson, terbesit rasa benci dalam hati Wilson ketika Hendra mengucapkan kata Adik untuk Kanya. Setelah Kanya masuk mobil, Wilson lalu melaju dengan kecepatan tinggi, sampai Kanya terbuat heran olehnya.
“Lo kenapa sih?” Tanya Kayla dengan wajah heran
“Nggak ada, gue laper pengen cepat makan, makanya harus ngebut dikit” 
“Ooo,,,, ya udah, tapi hati-hati walaupun ngebut”
“ya bawel!”
Kanya tidak tahu itu adalah alasan Wilson saja untuk menutupi apa sebenarnya yang ia rasakan, rasa bencinya kepada Hendra cowok yang kini dekat dengan Kanya.
Selesai makan Kanya mencoba membuka pembicaraan, setelah beberapa menit setelah sampai di salah satu restoran tempat biasa mereka makan, Wilson hanya diam tanpa bicara sepatah katapun dan hanya asik sendiri dengan makanan yang ia pesan sebelumnya. Kanya tahu, Wilson hanya bersikap demikian ketika dia merasa marah dirinya karena kesalahan yang di sengaja maupun tidak. Tapi Kanya berpikir seharian ini Kanya tidak pernah melakukan sesuatu yang yang membuat Wilson jengkel apalagi marah.
“Wil, tadi waktu pulang sekolah lo janji sama gue untuk cerita kejadian yang sebenarnya terjadi waktu lo mendadak pinter tadi” kata Kanya sambil memindahkan piring yang berisi makanan yang ia pesan yang semula berada didepannya.
“Mmmm, memang gue udah janji ya, kapan?” kata Wilson
“Udah deh Wil, gue udah mati penasaran nih, gue masih tidak menyangka lo bisa ngerjain soal itu, yang gue bayangin tadi pagi adalah kita sudah berdiri di bawah tiang bendera dan di lihat sama seluruh siswa seperti waktu itu, aduh malu-maluin banget”
“Malu dilihat sama kak Hendra atau semua siswa?” sindir Wilson.
“Mulai lagi deh, gue serius nih!” tegas Kanya
“ok ok, karena gue orang yang tidak pernah melanggar janji jadi gue akan men,,,”
“Ah lama, cepetan” sambut Kanya
“ya,,ya,,. Jadi tadi pagi itu ketika lo lagi pusing-pusingnya coret-coret buku, karena tidak berhasil menemukan jawaban tugas kimia yang diberikan sama pak Hanif, gue ke kelas sebelah nanya sama Doni teman basket gue yang kebetulan pinter untuk menjawab soal-soal tersebut, begitu!” jelas Wilson.
“Jadi Doni yang ngerjain, bukan lo. Untung seribu rasa kagum gue belum gue keluarin, jadi lo gak harus besar kepala deh.”
Mendengar jawaban Kanya, Wilson langsung menjitak kepala Kanya
“Aduh,,! Sakit tahu!!!”  Kanya memegang kepalanya yang terasa sakit setelah di jitak oleh Wilson.
“Lo gak ada syukur-syukurnya ya, bilang makasih kek, traktir makan kek, atau apa gitu, udah gue bantuin juga”
“Tapi kan bukan lo yang bantuin tapi Doni teman lo!”
“Tapi gue juga berusaha semksimal mungkin untuk bujuk dia supaya mau ngerjain soal itu, lo kira gampang bujuk orang kayak Doni yang pintar tapi pelit itu, hah?!” kata Wilson
“ya deh, makasih ya Wilson udah bantuin Kanya terbebas dari hukuman pak Hanif. Jadi, untuk hari ini Kanya akan traktir Wilson, bagaimana”  Tanya Kanya.
“Gitu dong, baru namanya teman, ya udah lo yan g bayarin semuanya ok?”
“Siap pak bos!”
*****