CAPTER 1
Tiitttt….tiiittt….
Suara
klakson mobil menyentuh gendang telinga Kanya yang masih merapikan rambut
panjangnya yang bergelombang di depan cermin, ia tersenyum sendiri seperti
seorang yang lagi berpose. Suara klakson kembali terdengar dan menyadarkan
Kanya.Kanya pun bergegas mengambil tasnya dan berlari menuju sumber suara.
“Lo,
lama banget sih?!” kata Wilson dengan wajah yang tak bersahabat.
“Sorry,
lo kan tahu kalau saya dandan lama, dan lo kan juga sudah biasa nunggu.” Kata
Kanya sambil membuka pintu mobil.
“Dandan,
kayak orang cakep aja lu”
“Emang
gue cakep, emang lu buruk rupa”
Wilson
tak membalas ejekan Kanya karena dia tahu pasti dia akan kalah pada ujungnya.
Wilson
dan Kanya adalah sepasang sahabat yang dipertemukan saat mereka menjadi murid
baru di salah satu sekolah elit yang berada di wilayah Praya, Lombok tengah.
Teman
sekolahnya selalu mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih karena mereka
selalu bersama dari kelas X-XI. Namun, ketika mereka ditanya tentang hubungan
mereka hanya menjawab “pacaran tidak ada dalam kamus hidup kita”. Kata itu
seumpama semboyan untuk simbol persahabatan mereka.
“Ayo
turun, udah nyampe kali” ajak Wilson
“Wil,
gue belum ngerjain tugas yang diberikan sama pak Hanif, lo udah belim?”
“Emang
ada tugas ya, ko gue gak tahu ya?” kata wilson heran. “kamu gimana sih, nanti
kita dihukum lagi seperti minggu lalu, malu tahu!” cetus Kayla.
“Udah
gak usah khawatir, jam pelajaran pah Hanif kan setelah keluar main, jadi jangan
khawatir kita masih punya banyak waktu” jelas Wilson
“Banyak
waktu untuk mengerjakan tugasnya bersama?” tanya Kanya
“Tidak!”
“Terus?”
“Banyak
waktu untuk nyontek! Ha..ah..”
Wilson pun tertawa, tapi tawanya tak disambut
oleh Kanya yang menganggap leluconnya tidak lucu, dan membayangkan kejadian
yang menimpa mereka minggu lalu saat tidak mengerjakan tugas menyelesaikan soal
kimia oleh pak Hanif.
“ayo
turun, saya janji hukuman minggu kemarin adalah hukuman terakhir untuk kita!”
janji Wilson, lalu Wilson mengelus rambut Kayla. Kayla menatap mata Wilson yang
nampak serius dengan apa yang sudah ia katakan.
“Promise?”
“Promise”
Jari
kelingking mereka pun bersatu.
***
“Giman
perasaannya sekarang kay? Lega ya” kata Wilson dengan senyum mengembang melihat
raut wajah keyla yang berubah dari keadaan tadi pagi.
“
Ya lah, saat terbebas dari ancaman hukuman yang super memalukan, siapa yang
akan lega menjalankan hidup selanjutnya”
dengan senyum mengembang tak karuan.
“Heh,
tapi BTW Wil, gimana caranya lo nyelesaiin tugas dengan soal yang super rumit
itu hanya dengan beberapa menit?” tanya Kanya heran. “gue kan pintar jadi tugas
segitu mah gampil,,,pil,,, pil” sambil menunjukkan ujung jari kuku telunjuknya.
“Sok
lu, heh dengar ya selama satu tahun gue
kenal dan bareng duduk sama lo, lo selalu tidur kalau dijelasin materi kimia
sama pak Hanif termasuk dalam kategori
guru killer itu. Jadi bagaimana mungkin seorang Wilson bisa mengerjakannya,
jawab jujur!” kata kanya
“Ok
ok, gue ngaku kalah harus debat sama cewek ratu bawel kayak lo. Nanti gue
jelasin apa yang sebenarnya sudah terjadi. Sekarang kita makan dulu, kelas sudah kosong lo masih aja ngomel. Lo
mau pulang bareng gue?” kata Wilson
“yalah,
kan biasanya gitu, kenapa harus nanya coba”
“kirain
mau diantar pulang sama kakak kelas itu lagi” ledeknya.
“mulai
lagi, udah deh” Kanya menarik tangan Wilson, meski Wilson memiliki struktu yang lebih besar dari pada Kanya, namun Kanya
mampu menarik tubuh Wilson walau hanya dengan gerakan terbata-bata karena
Wilson seperti enggan mengangkat kakinya untuk melangkah.
“Ayo
dong Wil, berat tahu badan lo, katanya
lo laper, mana mobil lo gue gak tahu
parkir dimana, Wil?!” omel Kanya.
“Mobil
gue di sebelah sana bego, kan tadi kita turunnya disana” sambil menunjuk tempat
parkir tempat dimana Wilson memakirkan mobilnya.
“ya
udah, sekarang lo sendiri ke parkiran gue tunggu di sini, ok” sambil
menyodorkan jempolnya ke hidung Wilson. Dengan cepat Wilson menepis tangan
Kanya dari wajahnya. “ cepet!”
“ya
bawel!” Wilson kemudian menuju ke
parkiran. Kanya pun menunggu sambil memainkan gadgetnya.
“Hay
Kanya?” terdengar suara yang sangat familiar di telinganya, suara yang sangat ia nantikan seharian ini. Suara
yang terdengar berat namun mampu membuat semua orang betah mendengarnya. Kanya
menoleh, dan menemukan seorang laki-laki bertubuh tegap berwajah tampan, putih
dengan tinggi lebih tinggi dari tubuhnya.
“kak
Hendra, hai kak!” sapanya.
Detak
jantung Kanya pun bekerja lebih cepat dari biasanya. Hal tersebut merupakan hal
yang biasa dia alami ketika bertemu dengan Hendra, kakak kelas yang mampu
membuatnya merasakan hal yang berbeda.
“Lagi
nungguin siapa?” tanyanya
“Nungguin
Wilson”
“Pulang
bareng Wilson ya”
“Ya!
dia pulang bareng gue, ayo Kan masuk!”
tiba tiba Wilson sudah ada di dalam mobilnya, dan berada di depan Kanya
dan Hendra serta langsung menjawab pertanyaan Hendra sebelum Kanya menjawabnya.
“Mmmm,,,,
ya kak gue pulang bareng sama Wilson, duluan ya kak” kata Kanya dengan nada
gugup dan langsung masuk kemobil.
“Ya,
hati-hati ya, Dik”
Dik,
kata itu sungguh tidak enak didengar di telinga Wilson, terbesit rasa benci
dalam hati Wilson ketika Hendra mengucapkan kata Adik untuk Kanya. Setelah
Kanya masuk mobil, Wilson lalu melaju dengan kecepatan tinggi, sampai Kanya
terbuat heran olehnya.
“Lo
kenapa sih?” Tanya Kayla dengan wajah heran
“Nggak
ada, gue laper pengen cepat makan, makanya harus ngebut dikit”
“Ooo,,,,
ya udah, tapi hati-hati walaupun ngebut”
“ya
bawel!”
Kanya
tidak tahu itu adalah alasan Wilson saja untuk menutupi apa sebenarnya yang ia
rasakan, rasa bencinya kepada Hendra cowok yang kini dekat dengan Kanya.
Selesai
makan Kanya mencoba membuka pembicaraan, setelah beberapa menit setelah sampai
di salah satu restoran tempat biasa mereka makan, Wilson hanya diam tanpa
bicara sepatah katapun dan hanya asik sendiri dengan makanan yang ia pesan
sebelumnya. Kanya tahu, Wilson hanya bersikap demikian ketika dia merasa marah
dirinya karena kesalahan yang di sengaja maupun tidak. Tapi Kanya berpikir
seharian ini Kanya tidak pernah melakukan sesuatu yang yang membuat Wilson
jengkel apalagi marah.
“Wil,
tadi waktu pulang sekolah lo janji sama gue untuk cerita kejadian yang
sebenarnya terjadi waktu lo mendadak pinter tadi” kata Kanya sambil memindahkan
piring yang berisi makanan yang ia pesan yang semula berada didepannya.
“Mmmm,
memang gue udah janji ya, kapan?” kata Wilson
“Udah
deh Wil, gue udah mati penasaran nih, gue masih tidak menyangka lo bisa
ngerjain soal itu, yang gue bayangin tadi pagi adalah kita sudah berdiri di
bawah tiang bendera dan di lihat sama seluruh siswa seperti waktu itu, aduh
malu-maluin banget”
“Malu
dilihat sama kak Hendra atau semua siswa?” sindir Wilson.
“Mulai
lagi deh, gue serius nih!” tegas Kanya
“ok
ok, karena gue orang yang tidak pernah melanggar janji jadi gue akan men,,,”
“Ah
lama, cepetan” sambut Kanya
“ya,,ya,,.
Jadi tadi pagi itu ketika lo lagi pusing-pusingnya coret-coret buku, karena
tidak berhasil menemukan jawaban tugas kimia yang diberikan sama pak Hanif, gue
ke kelas sebelah nanya sama Doni teman basket gue yang kebetulan pinter untuk
menjawab soal-soal tersebut, begitu!” jelas Wilson.
“Jadi
Doni yang ngerjain, bukan lo. Untung seribu rasa kagum gue belum gue keluarin,
jadi lo gak harus besar kepala deh.”
Mendengar
jawaban Kanya, Wilson langsung menjitak kepala Kanya
“Aduh,,!
Sakit tahu!!!” Kanya memegang kepalanya
yang terasa sakit setelah di jitak oleh Wilson.
“Lo
gak ada syukur-syukurnya ya, bilang makasih kek, traktir makan kek, atau apa
gitu, udah gue bantuin juga”
“Tapi
kan bukan lo yang bantuin tapi Doni teman lo!”
“Tapi
gue juga berusaha semksimal mungkin untuk bujuk dia supaya mau ngerjain soal
itu, lo kira gampang bujuk orang kayak Doni yang pintar tapi pelit itu, hah?!”
kata Wilson
“ya
deh, makasih ya Wilson udah bantuin Kanya terbebas dari hukuman pak Hanif.
Jadi, untuk hari ini Kanya akan traktir Wilson, bagaimana” Tanya Kanya.
“Gitu
dong, baru namanya teman, ya udah lo yan g bayarin semuanya ok?”
“Siap
pak bos!”
*****