"Kau sudah terlalu
lama sendiri, Edward."
"Tidakkah kau ingin
mencari seorang pendamping?"
"Kau membutuhkan
seseorang, Edward. Kau tidak bisa selalu sendiri."
"Kau sangat mempesona,
siapa yang tidak ingin menjadi pasanganmu?"
"Cepat berikan aku
seorang kakak ipar, Edward."
Aku, Edward Cullen sudah
terbiasa dengan ucapan-ucapan maupun sindiran seperti itu dari keluargaku.
Mereka semua menginginkanku untuk segera menemukan pendamping. Huh, memangnya
mereka pikir semudah itu? Oh, mungkin memang mudah bagi mereka mengingat mereka
sekarang sudah memiliki pasangan masing-masing, jadi mereka sudah melupakan
seperti apa susahnya mencari seorang pendamping yang memang ditakdirkan untuk
kita.
Aku hanya bisa mendengus
kesal saat salah satu saudaraku, Emmett Cullen berkata,"Perlukah aku
menghubungi biro jodoh untukmu?"
'Memangnya dia pikir aku
tidak bisa mencari pendamping hidupku sendiri? Aku bukannya tidak mau mencari,
tapi aku hanya belum menemukan seseorang yang tepat untuk mengisi ruang hatiku
ini,' pikirku kesal.
"Edward."Bahkan
tanpa menoleh pun aku tahu siapa yang memanggilku dan apa yang hendak
dibicarakan Carlisle denganku. Aku bisa membaca pikiran, ingat?
"Kapan kita akan
pergi?" Tanyaku langsung, walaupun aku juga sudah bisa membaca jawabannya
dari kepala Carlisle. Oke, lebihtepat dari pikirannya.
"Besok lusa. Kita akan
pergi ke tempat keluarga Denali. Kita akan tinggal disana selama beberapa
dekade. Sudah tidak aman lagi bagi kita untuk menempati kota ini. Beberapa
orang sudah mulai curiga pada kita yang tidak tampak menua setelah beberapa
tahun."
"Baiklah,"
jawabku singkat.
Carlisle menepuk bahuku
pelan dan pergi. Sepertinya dia tahu bahwa aku sedang ingin sendirian.Aku masih
termenung selama beberapa saat sebelum suara Alice muncul dalam kepalaku. Oh,
apapun itu, aku bersumpah sepanjang eksistensiku, bahwa apapun yang
dikatakannya bukanlah hal baik. Setidaknya untukku.
"Kau tahu, Edward? Kau
akan bertemu seseorang disana."
Lihat kan? Aku tahu kemana
akhir dari pembicaraan ini. Aku sudah sangat hapa dengan hal ini dan aku sudah
cukup muak.
"Tentu saja kita akan
bertemu dengan beberapa orang, Alice. Memangnya kita akan pergi ke pulau tidak
berpenghuni?" Jawabku ketus.
"Kau tahu bukan itu
maksudku, Edward. Kau tahu betul apa yang kumaksud. Kau bisa melihatnya dalam
pikiranku kan?" Ujar Alice tenang.
Aku mendengus kesal.
"Entahlah, Alice. Aku
tidak mengharapkan apa-apa. Aku juga tidak berharap dari dia.Siapapun dia, aku
tidak menginginkannya," gerutuku.
"Kita lihat saja nanti,
Edward. Kau akan melihat bahwa yang kukatakan ini benar. Kau akan segera
mendapatkan apa yang kau butuhkan," kata Alice.
"Kau bukan peramal,
Alice. Dan aku juga tidak peduli dengan halitu," desisku.
"Ayolah, Edward.
Kenapa kau tidak mencobanya saja? Tidak ada ruginya mencoba kan?" Bujuk
Alice.
"Tidak akan, Alice.
Aku tidak merasakan apa-apa dan aku tidak membutuhkan apa-apa. Apalagi untuk
hal seperti ini," ujarku.
"Kau bahkan belum
bertemu dengannya, Edward."
"Kurasa aku bahkan
tidak ingin bertemu dengannya," ucapku.
"Oh, Edward. Kurasa
aku setuju dengan pendapat Emmett bahwa kau perlu menghubungi biro jodoh,"
goda Alice dengan santainya.
"Pergilah kau makhluk
kecil. Kau benar-benar menjengkelkan," geramku galak.
Alice mengangkat kedua
tangannya kemudian pergi meninggalkanku dengan langkahnya yang ringan.Aku
benar-benar mulai merasa jengkel dengan perlakuan semua keluargaku akhir-akhir
ini. Kenapa mereka begitu ingin mencarikan pasangan untukku? Memangnya kenapa
kalau sampai saat ini aku masih sendiri? Aku menikmati eksistensiku walaupun
aku sendirian.
Oke, kata 'menikmati'
memang kurang cocok, tapi setidaknya aku masih baik-baik saja sampai saat ini.
Aku bahkan cukup yakin bahwa tujuan sebenarnya Carlisle mengajak semuanya
mengunjungi keluarga Denali adalah untuk mengenalkanku pada vampire-vampire
muda kenalannya disana. Kudengar ada tiga vampire muda disana, entah siapa
namanya.Semua keluargaku tampaknya sangat bersemangat untuk menjodohkanku
dengan salah satu dari mereka bertiga.
Mereka semua sesekali
menyinggung soal ketiga vampire itu dan membicarakan semua kebaikan dan
kelebihan mereka. Mereka pikir itu akan membuatku tertarik dan kagum pada
mereka. Huh,tidak tahukah mereka bahwa itu semua justru membuatku merasa muak?
Kurasa mereka memang tidak akan berhenti melakukan semuanya sampai aku
benar-benar menemukan pasangan.
-o-O-o-
"Kita sudah sampai,
Edward. Ini adalah rumah keluarga Denali," ujar Carlisle.
Kami sudah menempuh
perjalanan dari kota tempat kami tinggal sebelumnya dan mencapai rumah keluarga
Denali.
"Aku sudah tahu,
Carlisle. Tentunya ini rumah keluarga Denali karena kita menuju dan berhenti
disini," jawabku datar.
Esme sepertinya menyadari
nada suaraku yang tidak tenang. Dia merangkul bahuku dengan lembut dan
tersenyum menenangkan. Dari balik bahu Esme, aku bisa melihat Emmett sedang
terkekeh. Ingin sekali aku mengajaknya bertarung setelah ini. Akan kupastikan
aku menghajarnya.
"Carlisle!"Seorang
vampire pria muda muncul dari pintu rumah. Dibelakangnya ada seorang vampire
wanita muda yang memiliki wajah keibuan seperti Esme. Carlisle menoleh menatap
orang yang memanggilnya sebelum balas menyapa orang itu.
"Eleazar!
Carmen!"
Vampire yang bernama
Eleazar menghampiri Carlisle dan menepuk bahunya. Mereka berpelukan seperti
layaknya teman lama yang sudah sangat lama sekali tidak bertemu. Sementara itu,
vampire yang bernama Carmen menghampiri Esme dan mereka saling berpelukan.
"Kau belum pernah
bertemu dengan anak-anakku bukan, Eleazar?" Tanya Carlisle.
Secara otomatis, aku dan
keempat saudaraku berdiri berjajar di samping Carlisle dan Esme.
"Ini Edward, Rosalie,
Emmett, Alice dan Jasper." Carlisle memperkenalkan kami satu persatu.
Eleazar mengangguk dan
menjabat tanganku dan keempat saudara ku secara bergantian. Carmen memeluk kami
satu per satu.
"Ya ya. Pastinya kau
mendidik mereka menjadi vampire vegetarian juga kan, Carlisle?" Tanya
Eleazar memastikan.
"Tentu saja, Eleazar.
Kuharap kau pun masih berusaha untuk mengikuti gaya hidup kami," ucap
Carlisle.
"Tentu saja, Carlisle.
Kami sudah mulai mengikuti gaya hidup kalian. Jangan khawatir," ujar
Eleazar sambil tertawa.
"Aku senang
mendengarnya, Eleazar," ujar Carlisle sambil tersenyum.
"Ah, ya. Kalian juga
harus bertemu dengan teman-teman kami yang lain. Keluarlah kalian!"
Panggil Carmen.
Dua detik kemudian, tiga
orang vampire muda muncul di sebelah Carmen. Yang seorang berambut pirang
stroberi, yang lainnya berambut pirang pucat dan satu lagi berambut pirang
nyaris perak.
"Kenalkan.
Ini Tanya, Kate dan Irina."

Stylekirchhoff.Blogspot.Com: Before Edward Meet Bella >>>>> Download Now
ReplyDelete>>>>> Download Full
Stylekirchhoff.Blogspot.Com: Before Edward Meet Bella >>>>> Download LINK
>>>>> Download Now
Stylekirchhoff.Blogspot.Com: Before Edward Meet Bella >>>>> Download Full
>>>>> Download LINK 4D