Chapter 2
"Kenalkan. Ini Tanya,
Kate dan Irina."
Sementara Carmen sibuk
memperkenalkan Tanya, Kate dan Irina, aku justru sibuk memandang ke arah lain.
Aku sama sekali tidak merasa tertarik pada gadis-gadis vampire itu. Carmen sepertinya
getol sekali memperkenalkan mereka. Kurasa Carlisle sudah memberitahunya
tentang rencana menjodohkan salah satu dari mereka denganku. Hmmph…
Aku sama sekali tidak
peduli pada kata-kata Carmen mengenai mereka, sampai sebuah suara muncul di
kepalaku,
'Apa dia tidak tertarik
padaku?'
Aku sedikit mengangkat
kepala ketika mendengar suara itu. Yang jelas suara itu berasal dari pikiran
salah satu dari ketiga gadis vampire itu. Entah Tanya, Kate atau Irina. Aku
belum tahu seperti apa suara mereka kan?
Kurasa percuma saja
Carlisle berusaha menjodohkanku dengan siapapun. Aku tidak akan tertarik. Sama
seperti saat dia berusaha menjodohkan Rosalie denganku.
'Edward!' Tegur suara Esme
dalam kepalaku.
'Apa?' Aku balas bertanya
tanpa suara dengan menelengkan kepalaku ke arahnya.
'Sopanlah sedikit, Nak.
Carmen sedang memperkenalkan mereka. Mereka sangat cantik bukan?' Kata pikiran
Esme.
Aku mendengus. Kurasa
sebenarnya seorang vampire tidak memerlukan sopan santun. Kadang aku lelah
harus selalu bersikap seperti manusia, atau yang sekarang kusebut dengan
manusiawi. Lagipula, berapa kali harus kukatakan kalau aku memang tidak
tertarik pada mereka?
"Tanya, Kate, Irina,
mereka semua adalah Keluarga Cullen. Mereka akan tinggal bersama kita selama
beberapa dekade," jelas Carmen pada ketiga gadis vampire itu.
'Baguslah. Aku masih punya
waktu untuk mencoba menarik perhatiannya. Aku pasti berhasil membuatnya
tertarik padaku.'
Lagi-lagi aku mendengar
suara dari pikiran entah-gadis-yang-mana-dari-ketiga-gadis-vampire-itu. Aku tersenyum
sinis dan memutar bola mataku mendengarnya.
"Bagaimana kalau kita
persilakan tamu-tamu kita, atau keluarga baru kita untuk masuk ke dalam?"
Usul Eleazar. Kemudian dia mempersilakan aku dan keluargaku untuk masuk ke
dalam rumahnya. Aku mendengus lagi saat dia menyebut keluarga baru. Kurasa kata
itu memiliki arti tersirat lain.
Esme menyentuh lenganku
dengan lembut dan menggandengku masuk ke rumah keluarga Denali. Rumah mereka
tidak terlalu besar, tapi tampak sangat nyaman. Setelah kami berada di dalam
rumah, Esme langsung mengobrol dengan Carmen. Emmett menggantikan posisi Esme
berdiri di sebelahku, kemudian disusul Jasper di sisi yang lain. Rosalie dan
Alice tampak sedang asyik ngobrol dengan Tanya, Kate dan Irina.
"Jadi? Yang mana yang
kau pilih, Man?" Tanya Emmett kemudian sambil nyengir.
Aku meninju bahunya.
"Diam! Atau akan kurobek lehermu itu," desisku sambil memamerkan
gigi-gigiku yang tajam. Emmett justru terkekeh mendengarnya.
"Hei hei aku hanya
bertanya, Man. Well, kurasa Tanya sangat cantik. Yah, walaupun tidak lebih
cantik dari Rosalie-ku," ujar Emmett. Cengiran jahil masih terpasang di
wajahnya. "Bagaimana menurutmu, Jasper?"
Jasper hanya mengangkat
bahunya tanpa komentar. Emmett mendengus pelan.
"Jadi benar? Kalian
semua sengaja setuju pindah kemari adalah untuk menjodohkanku dengan salah satu
dari mereka?" Desisku berbahaya.
Emmett mengangkat kedua
tangannya. "Hei hei tenang, Man. Kami hanya berusaha membantumu. Lagipula
tidak ada salahnya mencoba bukan? Siapa tahu saja kau memang cocok dengan salah
satu dari mereka."
"Aku tidak butuh
bantuan kalian," ujarku ketus.
"Apa kau benar-benar
mau kuhubungi biro jodoh untuk vampire?"
Aku tidak sabar lagi. Ingin
sekali kuhantamkan tinju ke wajah Emmett yang tampak senang menggodaku. Tapi tiba-tiba,
aku merasakan ketenangan menjalar di seluruh tubuhku.
"Jasper, kau kah
itu?" Tanyaku pelan.
"Ya," jawab
Jasper singkat.
Aku menggelengkan kepalaku,
berusaha berpikir dengan lebih jernih, sementara Emmett masih saja terkekeh di
sebelahku. Kurasa dia benar-benar menikmati ini semua.
"Yang mana yang kau
sukai, Edward?' Tanyanya lagi.
"Aku sama sekali tidak
menyukai mereka," jawabku ketus.
"Aku setuju denganmu,
Edward." Rosalie tiba-tiba muncul di sebelahku. Wajahnya tampak sangat
kesal.
"Whoa Ada apa
denganmu, Rose?" Tanya Emmett.
"Oh, aku hanya merasa
bahwa aku tidak menyukai mereka bertiga," ucap Rosalie kesal sambil
mengedikkan kepalanya ke arah Tanya, Kate dan Irina yang masih mengobrol dengan
Alice. Tanya si gadis pirang stroberi sesekali mencuri pandang pada Rosalie.
"Apa yang mereka
lakukan padamu, sayang?" Tanya Emmett sambil merangkul Rosalie.
"Kau dengar cara
mereka bicara mengenai diri mereka? Terutama si gadis pirang stroberi itu.
Menganggap dirinya yang paling sempurna rupanya, eh? Aku tidak menyukai cara
mereka membanggakan diri mereka. Itu semua membuatku muak," cibir Rosalie.
"Memang apa saja yang
mereka katakan?" Tanya Emmett ingin tahu.
"Oh, coba saja kau
dengar mereka bicara. Tidak ada makhluk lain yang secantik aku, bukan? Atau,
Aku memiliki kekuatan yang langka. Yang kutahu hanya beberapa vampire yang
memiliki bakat sepertiku," Rosalie menirukan kata-kata para gadis vampire
itu dengan persis. Emmett sedikit terkekeh, tapi langsung berhenti ketika
mendapat tatapan marah dari Rosalie.
"Kau pikir itu
lucu?" Tanya Rosalie pedas.
Aku memutar bola mataku
melihat Rosalie dan Emmett. Rosalie tampaknya sudah siap berperang dengan
Emmett yang sudah berani menertawainya.
"Tidak, bukan begitu,
Rose. Hanya saja, aku heran ada yang bisa mengatakan bahwa dirinya yang paling
cantik. Padahal terbukti bahwa ada yang lebih cantik lagi berdiri di hadapanku
bukan?" Rayu Emmett. Kuduga, rayuannya tidak akan berhasil semudah itu
pada Rosalie. Dia tidak mudah dirayu.
"Oh ya? Bukankah kau
tadi juga menganggap bahwa Tanya sangat cantik, Emmett?" Tanya Rosalie
dengan suara tajam berbahaya.
Emmett mengangkat kedua
tangannya tanda menyerah. "Dengarkan aku dulu, Rose. Tanya memang sangat
cantik, tapi tetap tidak ada yang lebih cantik darimu, Rose." Huh, dia
masih saja bertahan dengan rayuannya. Kukatakan, itu tidak akan berhasil pada
Rosalie. Lihat kan, Rosalie hanya mendengus mendengarnya.
"Jangan merayuku,
Emmett. Aku tidak mudah dirayu," kata Rosalie. Senyum mulai merekah di
wajahnya. Emmett menyeringai lebar karena tahu rayuannya berhasil. Oh, tidak.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tidak biasanya Rosalie takluk dengan mudah.
Apalagi hanya dengan rayuan seperti itu.
Emmett merangkul Rosalie
dan mengedipkan sebelah matanya padaku. Seringai lebar masih tertempel di
wajahnya. Ingin sekali kutinju wajahnya yang menyebalkan itu.
"Kenapa daritadi kau
hanya diam, Jasper?" Tanyaku.
"Tidak apa-apa,
Edward. Aku hanya sedang berkonsentrasi menjaga suasana hatimu yang buruk hari
ini," jawab Jasper sambil tersenyum tipis. Aku tertawa kecil mendengarnya.
Kurasa aku jauh lebih suka bicara pada Jasper daripada dengan Emmett.
"Aku tahu apa yang
menjadi penyebabnya, Edward. Jangan khawatir. Carlisle dan Esme tidak berniat
menjodohkanmu. Mereka hanya mencoba, siapa tahu saja kau cocok dengan salah
satu dari tiga gadis vampire itu. Tapi Carlisle dan Esme tidak akan memaksamu
untuk memilih salah satu dari mereka," kata Jasper tenang.
"Begitukah? Aku hanya
kurang yakin. Aku bisa membaca apa yang mereka pikirkan. Betapa mereka sungguh
berharap aku akan memilih dan bersama dengan salah satu dari mereka,"
kataku getir.
"Tenang saja, Edward.
Carlisle dan Esme bukanlah tipe orangtua pemaksa kehendak. Bicarakan saja pada
mereka, pasti mereka akan mengerti," ujar Jasper.
"Bicarakan pada mereka?
Dan melihat ekspresi kecewa mereka?" Aku mendengus.
"Oh ya, Edward. Bicara
soal mereka, kurasa salah satu dari mereka tertarik padamu," ujar Rosalie
dengan nada sinis.
"Apa maksudmu,
Rose?"
"Jangan bodoh, Edward.
Apa kau akan mengira bahwa mereka tidak akan tertarik padamu? Oke, mungkin Kate
dan Irina tidak. Tapi Tanya, gadis pirang stroberi yang sombong itu,"
Rosalie mencibirkan bibirnya saat menyebut nama Tanya. "Dia
menyukaimu."
"Jangan bercanda,
Rose. Itu sama sekali tidak lucu," kataku.
"Aku tidak bercanda,
Edward. Tidak bisakah kau melihat bagaimana dia menatapmu? Apa kau tidak
menyadari bahwa dia sering mencuri pandang ke arahmu?" Ujar Rosalie sambil
mengarahkan pandangan pada Tanya.
"Apa? Jadi dia
memandangku? Kupikir dia memandangmu," gumamku.
"Tentu saja dia
memandangmu, bodoh. Untuk apa dia memandangku? Aku tidak tertarik pada wanita
seperti dia. Sekarang jelas kan? Dia menyukaimu, Edward," ujar Rosalie.
"Well, tunggu apalagi,
Edward? Mangsa sudah menyerah," kekeh Emmett. Aku melayangkan pandangan
tajam ke arahnya, tapi itu tidak membuatnya berhenti terkekeh. Aku baru saja
akan memulai pertarungan dengannya ketika aku merasa suasana hatiku menjadi
lebih tenang. Sial, Jasper sudah menggunakan kekuatannya sebelum aku bisa
menghajar Emmett.
"Aku tahu kau tidak
menyukainya, Edward. Aku juga tidak suka kalau harus bersaudara dengan
dia," tukas Rosalie. "Tapi hati-hatilah, Edward. Kurasa dia cukup
agresif."
Setelah berkata seperti
itu, Rosalie merangkul lengan Emmett yang masih terkekeh dan mengajaknya keluar
rumah. Aku menatap kepergian mereka sampai suara Alice memecah lamunanku.
"Kurasa aku akan
membawa Jasper untuk menyingkir sebentar. Sepertinya ada yang mau bicara
denganmu, Edward."
Aku menoleh dan melihat
Alice sudah merangkul lengan Jasper sambil tersenyum dan mengajaknya pergi
juga. Jasper tersenyum tipis padaku sebelum mengikuti langkah Alice.
Aku juga menatap mereka
berdua sampai aku menyadari bahwa ada seseorang yang mendekatiku. Tanya—si
gadis rambut pirang stroberi. Dia mendekatiku, meninggalkan kedua saudaranya
yang tampak masih membicarakan sesuatu. Kuakui, Tanya memang cantik jelita,
tapi itu tidak membuatku menjadi begitu saja menyukainya. Entah mengapa, tapi
aku memang tidak bisa merasakan apapun padanya, tertarik pun tidak.
Tanya berhenti di depanku
dan tersenyum manis. Dia mengulurkan tangannya dan berkata dengan suaranya yang
lembut dan merdu,
"Hai, namaku
Tanya."
No comments :
Post a Comment
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ