Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis
sukses muda broo.. ayok ikutan buat arkel di babe 1 artikel 50 ribu loo

Wednesday, July 27, 2016

Before Edward Meet Bella (chapter 6)




Chapter 6
"Sudah siap, Edward?" Tanya Carlisle.
Hari itu keluarga Cullen akan pindah ke Forks. Sebentar lagi Carlisle, Esme dan Edward akan segera berangkat dengan Mercedez milik Carlisle. Alice, Jasper, Rosalie dan Emmett sudah berangkat lebih dulu dengan menggunakan Volvo hadiah ulang tahun dari mereka sendiri untuk Edward. Alice mengajak mereka pergi ke Port Angeles untuk berbelanja karena dia mendengar info bahwa sedang ada diskon besar-besaran di salah satu pusat perbelanjaan sampai jam dua belas siang.
Sejak semalam, Edward sama sekali tidak bersuara dan itu membuat kedua orangtua angkatnya khawatir.
Esme menghampiri Edward dan memeluk bahunya dengan lembut. "Edward, kalau kau tidak mau pergi, tidak apa-apa."
Edward mendengar ketulusan dan rasa sayang dalam suara Esme. Esme adalah sosok ibu terbaik yang bisa dimiliki oleh siapapun. Melihat Esme yang tersenyum padanya, Edward merasa tidak sanggup jika harus berpisah dengan Esme. Dia tahu bahwa Esme akan kehilangan dirinya jika dia memilih untuk tinggal. Bagaimanapun, Edward adalah sosok anak pertama yang dimiliki oleh Esme.
"Tidak, Esme. Aku akan ikut denganmu dan Carlisle," Edward akhirnya mengeluarkan suaranya.
Esme tersenyum dan membelai lembut bahu Edward dengan penuh sayang. Edward balas tersenyum pada Esme.
"Jangan sungkan untuk berkunjung kemari lagi, Carlisle, Esme," suara Eleazar terdengar di belakang Edward. "Kau juga Edward," lanjut Eleazar sambil tersenyum penuh arti pada Edward.
"Terima kasih, Eleazar, Carmen. Kalian sudah mengijinkan kami tinggal disini walau hanya sebentar," kata Carlisle.
Eleazar melambaikan tangannya seolah mengatakan hal itu bukan apa-apa. "Sama-sama, Carlisle. Kita kan sudah seperti keluarga."
Sementara Carlisle, Esme, Eleazar dan Carmen sedang sibuk mengucapkan salam sampai jumpa, Edward memandang ke arah jendela ruang tamu, dimana sesosok gadis berambut pirang sedang mengintip dan mengamati Edward dari balik tirai.
Edward bertatapan dengan Tanya selama beberapa saat sebelum Tanya berbalik masuk ke dalam rumah dan menutup tirai. Edward menatap jendela itu selama beberapa saat dengan tatapan aneh.
"Edward?" Panggil Carlisle. "Bisa kita berangkat sekarang?"
"Ya," jawab Edward tanpa mengalihkan pandangannya. "Tentu saja."
Perlahan kemudian Edward berbalik. Jika dia masih bisa bernapas, pastilah sekarang dia sedang menghela napasnya. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan, tapi dia merasa sedikit kehilangan. Berpuluh-puluh tahun dia tinggal bersama dengan keluarga Denali dan sekarang dia harus ikut pergi meninggalkan mereka.
Sudahlah dia masih punya berdekade-dekade lamanya untuk bisa mengunjungi mereka lagi.
"Edward!"
Suara Tanya membuat semua yang berada disitu menoleh. Tanya berlari keluar rumah dan menghampiri Edward dengan cepat.
"Maaf, Carlisle? Boleh kupinjam Edward sebentar saja?" Pinta Tanya pada Carlisle.
"Tentu saja boleh, Tanya," jawab Carlisle sambil tersenyum. Carmen menyenggol Eleazar dan mereka tersenyum penuh arti.
"Terima kasih." Tanpa menunggu lagi, Tanya segera menarik Edward sampai ke belakang rumah.
"Tanya ?"
"Ini untukmu," Tanya mengulurkan kotak berwarna perak pada Edward.
"Apa ini?" Tanya Edward bingung.
"Buka saja sendiri," kata Tanya. Dengan susah payah dia berusaha menyembunyikan bayangan isi dalam kotak itu supaya Edward tidak bisa melihat isinya dalam pikirannya. Kerut kecil di antara kedua alis Edward membuktikan bahwa Tanya berhasil menyembunyikan pikirannya.
Edward menarik pita merah yang mengikat kotak perak itu dan membukanya. Kemudian Edward menarik keluar rantai kalung dengan bandul kristal yang berkilau. Kristal berbentuk hati itu berukirkan nama'Edward'. Tanya sangat suka pada kristal.
"Tanya?"
"Terimalah, Edward. Itu khusus ku buat untukmu," ujar Tanya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Tanya. Ini sungguh— spesial,"
"Senang kalau kau menyukainya, Edward. Kuharap kau memakainya," ujar Tanya.
"Tenang saja. Tapi itu bukan berarti aku mengharapkan apa-apa," lanjut Tanya dengan cepat.
'Walaupun aku berharap suatu saat nanti aku bisa menggantinya dengan bandul kristal berukirkan namaku,' batin Tanya.
Edward mengangkat alisnya, "Tidak mengharapkan apapun, eh?"
"Sial!" Umpat Tanya. "Kau membaca pikiranku lagi!"
Edward terkekeh. Kemudian dia mengalungkan kalung itu ke lehernya yang putih pucat.
"Kalau begitu belajarlah lagi untuk menyembunyikan pikiranmu supaya tidak terbaca olehku saat aku kembali kesini nanti."
Edward tersenyum geli melihat Tanya yang membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan kata-katanya barusan.
"Kau akan kembali kesini? Sungguh?" Tanya menatap Edward dengan berharap.
"Kupikir tidak ada salahnya kan aku main-main kesini? Akan sangat menyenangkan untuk bisa berkunjung kesini lagi saat aku mulai bosan dengan suasana Forks nanti," jawab Edward.
"Tapi itu juga kalau aku masih diperbolehkan berkunjung kesini lagi oleh Eleazar dan Carmen," gurau Edward.
"BOLEH! Tentu saja boleh, Edward! Akan kupastikan! Aku sendiri yang akan memastikan bahwa rumah ini selalu terbuka untukmu," seru Tanya dengan bersemangat.
Edward tertawa melihat tingkah Tanya yang tampak sangat bersemangat. Secara refleks Edward mengulurkan tangannya untuk mengacak- acak rambut Tanya.
"Sudah ya. Aku harus segera kembali pada Carlisle dan Esme. Aku tidak boleh membuat mereka terlalu lama menunggu," pamit Edward.
"Ya. Tapi berjanjilah, Edward. Kau pasti akan berkunjung kesini kan?" Kata Tanya.
"Aku janji," ujar Edward.
Tanya tersenyum dengan sangat manis. Dan entah apa yang mendorong Edward untuk mencium pipi Tanya.
Namun segera menariknya karna Tanya memalingkan wajahnya ke arah Edward.
"Sampai jumpa, Tanya!" Edward berlari meninggalkan Tanya yang masih terpana dan tidak percaya. Edward baru saja mencium pipinya? Seandainya jantungnya masih berdetak, pastilah sekarang organ tubuh itu sedang berdetak dengan cepatnya.
-o-O-o-
Forks
"Welcome home, Edward," ujar Carlisle setelah dia, Edward dan Esme memasuki rumah mereka yang baru di kota Forks.
Forks adalah kota kecil di Amerika yang memiliki curah hujan tinggi per tahunnya. Tapi selain itu, Forks adalah kota yang cukup indah. Pepohonan berjajar dengan rapi di sepanjang jalan kota ini. Forks juga terkenal dengan pantainya yang indah—terutama jika dilihat saat senja.
"Alice pastilah sudah sampai," gumam Esme sambil tersenyum.
Melihat ruangan utama rumah itu sudah didekorasi dengan berbagai macam pita dan hiasan, tentu saja dengan cepat bisa disimpulkan bahwa Alice pastilah sudah sampai. Siapa lagi yang begitu bersemangat untuk mendekorasi ruangan seperti itu? Alice-lah si ratu pesta.
"Alice," panggil Carlisle. "Jasper, Emmett, Rose."
Dalam hitungan detik, Alice, Jasper, Emmett dan Rosalie sudah berdiri di depan ayah angkat mereka.
"Ya, Dad?" Balas Alice dengan riang seperti biasa.
Carlisle tersenyum mendengar panggilan dari anak angkatnya yang paling mungil itu.
"Ada yang harus kubicarakan. Supaya kita bisa tinggal cukup lama disini, aku sudah memutuskan bahwa kalian akan bersekolah lagi disini. Mengulang SMA. Semua ijazah dan surat-surat yang diperlukan untuk mendaftar akan kuurus nanti. Bagaimana? Apa kalian berlima setuju?" Tanya Carlsile.
"Boleh-boleh saja, Carlisle!" Alice langsung menyetujui tawaran Carlisle.
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Aku setuju juga," kekeh Emmett.
"Tidak masalah untukku, Carlisle," kata Jasper.
"Baik," jawab Rosalie dengan sangat singkat.
Semua mata tertuju pada Edward.
"Aku setuju saja," gumam Edward akhirnya.
"Baiklah kalau begitu. Kalau kalian setuju, satu jam lagi aku akan berangkat ke Port Angeles dan mengurus semua surat yang dibutuhkan. Dengan membayar tentunya," kata Carlisle dengan nada humor pada tiga kalimat terakhir.
"Kapan sekolah itu dimulai?" Tanya Esme.
"Kalau surat-suratnya bisa selesai dengan cepat, maka kira-kira minggu depan mereka sudah bisa bersekolah di Forks High School," jawab Carlisle pada Esme.

nantikan chapter 7nya...
Top of Form
Bottom of Form

No comments :

Post a Comment

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ