Chapter 6
"Sudah siap, Edward?" Tanya
Carlisle.
Hari itu keluarga Cullen akan pindah ke
Forks. Sebentar lagi Carlisle, Esme dan Edward akan segera berangkat dengan
Mercedez milik Carlisle. Alice, Jasper, Rosalie dan Emmett sudah berangkat
lebih dulu dengan menggunakan Volvo hadiah ulang tahun dari mereka sendiri
untuk Edward. Alice mengajak mereka pergi ke Port Angeles untuk berbelanja
karena dia mendengar info bahwa sedang ada diskon besar-besaran di salah satu
pusat perbelanjaan sampai jam dua belas siang.
Sejak semalam, Edward sama sekali tidak
bersuara dan itu membuat kedua orangtua angkatnya khawatir.
Esme menghampiri Edward dan memeluk
bahunya dengan lembut. "Edward, kalau kau tidak mau pergi, tidak
apa-apa."
Edward mendengar ketulusan dan rasa
sayang dalam suara Esme. Esme adalah sosok ibu terbaik yang bisa dimiliki oleh
siapapun. Melihat Esme yang tersenyum padanya, Edward merasa tidak sanggup jika
harus berpisah dengan Esme. Dia tahu bahwa Esme akan kehilangan dirinya jika
dia memilih untuk tinggal. Bagaimanapun, Edward adalah sosok anak pertama yang
dimiliki oleh Esme.
"Tidak, Esme. Aku akan ikut
denganmu dan Carlisle," Edward akhirnya mengeluarkan suaranya.
Esme tersenyum dan membelai lembut bahu
Edward dengan penuh sayang. Edward balas tersenyum pada Esme.
"Jangan sungkan untuk berkunjung
kemari lagi, Carlisle, Esme," suara Eleazar terdengar di belakang Edward.
"Kau juga Edward," lanjut Eleazar sambil tersenyum penuh arti pada
Edward.
"Terima kasih, Eleazar, Carmen.
Kalian sudah mengijinkan kami tinggal disini walau hanya sebentar," kata
Carlisle.
Eleazar melambaikan tangannya seolah
mengatakan hal itu bukan apa-apa. "Sama-sama, Carlisle. Kita kan sudah
seperti keluarga."
Sementara Carlisle, Esme, Eleazar dan
Carmen sedang sibuk mengucapkan salam sampai jumpa, Edward memandang ke arah
jendela ruang tamu, dimana sesosok gadis berambut pirang sedang mengintip dan
mengamati Edward dari balik tirai.
Edward bertatapan dengan Tanya selama
beberapa saat sebelum Tanya berbalik masuk ke dalam rumah dan menutup tirai.
Edward menatap jendela itu selama beberapa saat dengan tatapan aneh.
"Edward?" Panggil Carlisle.
"Bisa kita berangkat sekarang?"
"Ya," jawab Edward tanpa
mengalihkan pandangannya. "Tentu saja."
Perlahan kemudian Edward berbalik. Jika
dia masih bisa bernapas, pastilah sekarang dia sedang menghela napasnya. Entah
apa yang sebenarnya dia rasakan, tapi dia merasa sedikit kehilangan.
Berpuluh-puluh tahun dia tinggal bersama dengan keluarga Denali dan sekarang
dia harus ikut pergi meninggalkan mereka.
Sudahlah dia masih punya
berdekade-dekade lamanya untuk bisa mengunjungi mereka lagi.
"Edward!"
Suara Tanya membuat semua yang berada
disitu menoleh. Tanya berlari keluar rumah dan menghampiri Edward dengan cepat.
"Maaf, Carlisle? Boleh kupinjam
Edward sebentar saja?" Pinta Tanya pada Carlisle.
"Tentu saja boleh, Tanya,"
jawab Carlisle sambil tersenyum. Carmen menyenggol Eleazar dan mereka tersenyum
penuh arti.
"Terima kasih." Tanpa menunggu
lagi, Tanya segera menarik Edward sampai ke belakang rumah.
"Tanya ?"
"Ini untukmu," Tanya
mengulurkan kotak berwarna perak pada Edward.
"Apa ini?" Tanya Edward
bingung.
"Buka saja sendiri," kata
Tanya. Dengan susah payah dia berusaha menyembunyikan bayangan isi dalam kotak
itu supaya Edward tidak bisa melihat isinya dalam pikirannya. Kerut kecil di
antara kedua alis Edward membuktikan bahwa Tanya berhasil menyembunyikan
pikirannya.
Edward menarik pita merah yang mengikat
kotak perak itu dan membukanya. Kemudian Edward menarik keluar rantai kalung
dengan bandul kristal yang berkilau. Kristal berbentuk hati itu berukirkan
nama'Edward'. Tanya sangat suka pada kristal.
"Tanya?"
"Terimalah, Edward. Itu khusus ku
buat untukmu," ujar Tanya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Tanya. Ini sungguh—
spesial,"
"Senang kalau kau menyukainya,
Edward. Kuharap kau memakainya," ujar Tanya.
"Tenang saja. Tapi itu bukan
berarti aku mengharapkan apa-apa," lanjut Tanya dengan cepat.
'Walaupun aku berharap suatu saat nanti
aku bisa menggantinya dengan bandul kristal berukirkan namaku,' batin Tanya.
Edward mengangkat alisnya, "Tidak
mengharapkan apapun, eh?"
"Sial!" Umpat Tanya. "Kau
membaca pikiranku lagi!"
Edward terkekeh. Kemudian dia
mengalungkan kalung itu ke lehernya yang putih pucat.
"Kalau begitu belajarlah lagi untuk
menyembunyikan pikiranmu supaya tidak terbaca olehku saat aku kembali kesini
nanti."
Edward tersenyum geli melihat Tanya yang
membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan kata-katanya barusan.
"Kau akan kembali kesini?
Sungguh?" Tanya menatap Edward dengan berharap.
"Kupikir tidak ada salahnya kan aku
main-main kesini? Akan sangat menyenangkan untuk bisa berkunjung kesini lagi
saat aku mulai bosan dengan suasana Forks nanti," jawab Edward.
"Tapi itu juga kalau aku masih
diperbolehkan berkunjung kesini lagi oleh Eleazar dan Carmen," gurau
Edward.
"BOLEH! Tentu saja boleh, Edward!
Akan kupastikan! Aku sendiri yang akan memastikan bahwa rumah ini selalu
terbuka untukmu," seru Tanya dengan bersemangat.
Edward tertawa melihat tingkah Tanya
yang tampak sangat bersemangat. Secara refleks Edward mengulurkan tangannya
untuk mengacak- acak rambut Tanya.
"Sudah ya. Aku harus segera kembali
pada Carlisle dan Esme. Aku tidak boleh membuat mereka terlalu lama
menunggu," pamit Edward.
"Ya. Tapi berjanjilah, Edward. Kau
pasti akan berkunjung kesini kan?" Kata Tanya.
"Aku janji," ujar Edward.
Tanya tersenyum dengan sangat manis. Dan
entah apa yang mendorong Edward untuk mencium pipi Tanya.
Namun segera menariknya karna Tanya
memalingkan wajahnya ke arah Edward.
"Sampai jumpa, Tanya!" Edward
berlari meninggalkan Tanya yang masih terpana dan tidak percaya. Edward baru
saja mencium pipinya? Seandainya jantungnya masih berdetak, pastilah sekarang
organ tubuh itu sedang berdetak dengan cepatnya.
-o-O-o-
Forks
"Welcome home, Edward," ujar
Carlisle setelah dia, Edward dan Esme memasuki rumah mereka yang baru di kota
Forks.
Forks adalah kota kecil di Amerika yang
memiliki curah hujan tinggi per tahunnya. Tapi selain itu, Forks adalah kota
yang cukup indah. Pepohonan berjajar dengan rapi di sepanjang jalan kota ini.
Forks juga terkenal dengan pantainya yang indah—terutama jika dilihat saat
senja.
"Alice pastilah sudah sampai,"
gumam Esme sambil tersenyum.
Melihat ruangan utama rumah itu sudah
didekorasi dengan berbagai macam pita dan hiasan, tentu saja dengan cepat bisa
disimpulkan bahwa Alice pastilah sudah sampai. Siapa lagi yang begitu
bersemangat untuk mendekorasi ruangan seperti itu? Alice-lah si ratu pesta.
"Alice," panggil Carlisle.
"Jasper, Emmett, Rose."
Dalam hitungan detik, Alice, Jasper,
Emmett dan Rosalie sudah berdiri di depan ayah angkat mereka.
"Ya, Dad?" Balas Alice dengan
riang seperti biasa.
Carlisle tersenyum mendengar panggilan
dari anak angkatnya yang paling mungil itu.
"Ada yang harus kubicarakan. Supaya
kita bisa tinggal cukup lama disini, aku sudah memutuskan bahwa kalian akan
bersekolah lagi disini. Mengulang SMA. Semua ijazah dan surat-surat yang
diperlukan untuk mendaftar akan kuurus nanti. Bagaimana? Apa kalian berlima
setuju?" Tanya Carlsile.
"Boleh-boleh saja, Carlisle!"
Alice langsung menyetujui tawaran Carlisle.
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Aku setuju juga," kekeh
Emmett.
"Tidak masalah untukku,
Carlisle," kata Jasper.
"Baik," jawab Rosalie dengan
sangat singkat.
Semua mata tertuju pada Edward.
"Aku setuju saja," gumam
Edward akhirnya.
"Baiklah kalau begitu. Kalau kalian
setuju, satu jam lagi aku akan berangkat ke Port Angeles dan mengurus semua
surat yang dibutuhkan. Dengan membayar tentunya," kata Carlisle dengan
nada humor pada tiga kalimat terakhir.
"Kapan sekolah itu dimulai?"
Tanya Esme.
"Kalau surat-suratnya bisa selesai
dengan cepat, maka kira-kira minggu depan mereka sudah bisa bersekolah di Forks
High School," jawab Carlisle pada Esme.
nantikan chapter 7nya...
No comments :
Post a Comment
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ