Chapter 5
"Aku tidak akan menyerah,
Edward."
Aku bisa melihat mata Tanya yang menyala
penuh tekad saat mengatakan bahwa dia tidak akan menyerah. Entah mengapa, aku
tersenyum mendengar kata-katanya. Mungkinkah aku hanya ingin menggodanya? Oh
kuputuskan untuk sedikit 'bermain-main' dengan vampire-pantang-menyerah ini.
"Maukah kau membuktikannya,
Tanya?" Seringaiku.
Tanya mengerjap mendengar tantanganku.
"Apa?"
"Kau serius, Edward?" Tanyanya
lagi kurang percaya.
Aku tersenyum untuk menjawab dan Tanya
mengartikan itu sebagai 'ya'.
"Baiklah, akan kubuktikan padamu.
Aku pasti bisa mengambil hatimu. Tunggu saja waktunya, Edward. Oh ini hanya
masalah waktu," ujar Tanya dengan riang. Senyum lebar kembali tertempel di
wajah cantiknya.
"Akan kutunggu, Tanya,"
tantangku.
"Yeah, akan kubuktikan asal kau
tidak terus menerus menghindariku, Edward," ujar Tanya sedikit galak.
"Percuma saja kau memberiku kesempatan untuk mengambil hatimu tapi kau
terus menjauh dan menghindariku."
Aku terkekeh mendengarnya. "Baik,
kuberi kau kesempatan. Tapi aku tidak janji akan berpaling padamu."
"Ouch, itu menyakitkan, Edward.
Seolah kau mengatakan bahwa semua usahaku akan sia-sia," gurau Tanya
pura-pura tersinggung.
" Baiklah," aku terkekeh.
"Aku mau masuk sekarang."
"Aku juga!" Seru Tanya riang.
"Ayo!" Tanya menarik tanganku dan mengajakku masuk sambil
tertawa-tawa.
Suasana di ruang keluarga Denali tampak
hangat. Carlisle, Esme, Eleazar dan Carmen tampak sedang berbincang-bincang.
Kate dan Irina berkumpul bersama Rosalie, Emmett, Jasper dan Alice. Begitu aku
dan Tanya memasuki ruangan, semua pandangan vampire dalam ruangan itu terarah
pada kami berdua, apalagi dengan tanganku yang berada dalam genggaman Tanya.
Rosalie menatap tajam Tanya dan langsung melengos begitu melihat Tanya
menyunggingkan senyum kemenangan.
Aku sendiri tidak tahu apa yang sekarang
membuatku sedikit luluh di hadapan Tanya. Padahal sampai tadi sore aku masih
begitu dingin padanya. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri
Tanya dan tidak ada salahnya jika aku memberinya kesempatan.
"Ah, Edward, kau sudah pulang
rupanya," sapa Carlisle dengan senyumnya yang lebar. Esme dan Carmen juga
tersenyum.
"Apakah ada eh perkembangan
baru?" Tanya Eleazar. Matanya menatap tanganku yang masih digenggam oleh
Tanya.
Dengan senyumku yang biasa, perlahan aku
melepaskan tanganku dari Tanya. Aku bisa merasakan kekecewaan Tanya ketika aku
menarik tanganku. Eleazar juga tampak sedikit terkejut melihat aku langsung
melepaskan tanganku.
"Tidak. Tidak ada apa-apa, Eleazar.
Aku hanya baru saja meluruskan sesuatu dengan Tanya," senyumku. "Iya
kan, Tanya?"
"Eh iya," jawab Tanya.
"Ah begitu rupanya. Yah tidak
apa-apa. Aku senang jika kalian semua bisa akrab dan kita bisa menjadi keluarga
yang baik," ucap Eleazar. Lagi-lagi aku menangkap arti tersembunyi dalam
kata 'keluarga' yang di ucapkan oleh Eleazar. Sepertinya Tanya juga mengerti
maksud tersembunyi dari Eleazar, tapi dia hanya tersenyum senang.
"Aku juga merasa senang jika itu
bisa terwujud, Eleazar," ucap Tanya riang.
Aku bisa mendengar pikiran Tanya
berkata, 'Aku pasti bisa membuatmu berpaling padaku, Edward. Lihat saja
nanti.'Sedangkan pikiran Rosalie berkata, 'Oh awas saja kalau sampai Edward
terpengaruh oleh si centil ini. Akan ku ajak Tanya bertarung dan kurobek
lehernya.'
Aku sedikit tersentak dan menatap
Rosalie yang sedang menatapku dan Tanya bergantian sambil memamerkan
taring-taringnya yang tajam.
'Kau dengar itu kan, Edward?' Kata suara
dari pikiran Rosalie. Aku hanya mendengus untuk menjawab dan Rosalie
menyeringai semakin lebar.
"Edward." Tiba-tiba Alice
sudah berada di sebelahku. "Ada yang ingin kubicarakan."
Aku menatap Alice dan mencoba membaca
pikirannya, berusaha mencari tahu apa kira-kira yang ingin makhluk mungil ini
bicarakan. Tapi aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang bisa memberiku
petunjuk tentang apa yang akan dibicarakan Alice. Oh—bagus, makhluk kecil ini
sudah semakin pintar menyembunyikan pikirannya. Latihan selama bertahun-tahun
mungkin?
"Baiklah, Alice," ujarku
dengan setengah menggerutu. Alice tersenyum pada Tanya dan menarikku menjauh.
Alice membawaku menuju halaman belakang.
Saat kami melewati Rosalie, Emmett dan Jasper, mereka langsung mengikuti aku
dan Alice. Kupikir Alice akan melarang mereka, tapi ternyata Alice hanya diam
saja dan membiarkan mereka mengikuti kami.
"Ada apa sih, Alice?" Tanyaku
mulai kesal. "Kenapa sampai sejauh ini?"
Alice terus menarik tanganku sampai kami
masuk ke hutan di belakang rumah keluarga Denali. Rumah ini memang terletak di
tengah hutan.
"Baiklah, disini saja." Alice
akhirnya berhenti menarik tanganku dan berbalik menghadapiku. Mata polosnya
menelusuri wajahku dan membuatku sedikit mengernyit.
"Karena sekarang sudah jam dua
belas malam..." Kata-kata Rosalie terpotong oleh Alice.
"Biar aku yang mengatakannya,
Rose!" Seru Alice agak kesal. Rosalie nyengir dan mengangkat bahunya.
"Ada apa, Alice?" Aku mulai
penasaran.
"Selamat Ulang Tahun, Edward!"
Seru Alice girang. Aku sedikit terkejut mendengarnya. Ulang tahun?
"Apa? Ulang tahun?" Tanyaku
bingung.
"Ya, sekarang sudah tanggal 20
Juni, Edward. Jadi, selamat ulang tahun yang ke 68 secara manusia," ucap
Alice nyengir senang. Aku mendengar Emmett terkekeh dan pikirannya berkata,
'Sudah jadi kakek rupanya, bung?'
Aku melirik sebentar pada Emmett sebelum
Alice mengambil kembali perhatianku.
"jadi saat kau dan Rosalie sedang
berburu, aku, Jasper dan Emmett meminjam mobil Carlisle dan turum ke kota. Kami
menemukan hadiah yang cocok untukmu—"
"Alice, kalau kau hanya mau
mengucapkan selamat ulang tahun, kenapa harus membawaku ke tengah hutan seperti
ini? Kau tahu kan disini banyak nyamuk?" Kataku sedikit menggoda.
Emmett tertawa keras-keras mendengar
ucapanku. "Oh, peduli apa dengan nyamuk, Edward? Toh kita juga sama
seperti makhluk-makhluk kecil itu. Sama-sama menghisap darah."
Alice menatap Emmett dengan tatapan
menegur. Tetapi saat Alice kembali menatapku, aku yakin dan aku berani
bersumpah aku melihat matanya berkilat jahil.
"Oh, kau lebih suka aku
mengatakannya di dalam? Di depan semuanya dan menyerukan lagu selamat ulang
tahun untukmu? Yang ke-68, eh?" Kekeh Alice. "Di hadapan Tanya?"
Aku berpikir sebentar dengan jawaban
Alice. Otakku masih sulit untuk mencerna sesuatu.
"Kalau kau mau Tanya tahu bahwa
kami merayakan ulang tahunmu, silakan saja. Tapi pikirkan apa yang kira-kira
akan dia lakukan kalau tahu bahwa kau berulang tahun," tukas Rosalie tidak
sabar. "Memberimu ciuman selamat di hadapan kami semua mungkin? Dan
meresmikan hubungan kalian? Ah, manis sekali, Edward."
Aku melotot kesal ke arah Rosalie yang
tersenyum masam padaku. Oke, alasannya memang masuk akal dan bisa diterima.
"Jadi? Apa hadiahku?"
Pertanyaanku ini sepertinya bisa membuat Alice melompat-lompat saking
girangnya. Adik menyebalkanku ini memang selalu menjadi yang paling bersemangat
jika ada suatu perayaan.
"Sebenarnya aku mau menghadiahkan
jodoh untukmu, Edward," goda Emmett. Oh, tidak. Itu lagi yang
dikatakannya? Benar-benar mengesalkan. "Tapi setelah ku pikir lagi, kau
kan sudah punya Tanya sekarang."
Aku benar-benar tidak sabar lagi.
Kutinju Emmett dan ku ajak bergulat.
"Hadiahku cukup dengan
mengijinkanku menghajarku, Emmett. Sialan kau!" Geramku.
"Sudah cukup, kalian berdua! Kalian
benar-benar membuatku kesal," tukas Alice jengkel. Dia memang akan
langsung sewot jika acaranya dirusak.
"Maaf, Alice," gumamku sambil
tetap melotot pada Emmett yang masih terkekeh senang karena sudah membuatku
kesal.
"Kemarilah, Edward. Aku ingin
menunjukkan hadiahmu," ajak Alice sambil mengulurkan tangannya padamu.
Aku meraih tangan Alice dan membiarkannya
membawaku berlari lebih jauh ke dalam hutan. Alice terus berlari selama
beberapa saat dan berhenti di sebuah tanah kosong. Disitu sudah ada satu
bangunan kecil yang tampaknya masih baru.
"Kalian memberiku rumah? Tapi kecil
sekali?" Tanyaku bingung.
"Bukan, Edward. Dan itu bukan
rumah. Hadiahmu ada di dalam sana," ujar Alice sambil membawaku ke arah
rumah itu. Alice membuka kuncinya dan membuka lebar-lebar rumah itu sampai aku
bisa melihat sesuatu yang tertutup kain.
"Mobil?" Desahku pelan.
"Ya! Lihatlah, Edward. Aku yakin
kau akan suka!" Seru Alice dan dengan semangat dia menarik kain itu.
Aku sedikit terkagum melihat mobil yang
masih berkilat itu. Perlahan aku berjalan mendekati mobil hadiahku dan
menyentuhnya. Badan mobilnya masih licin dan berkilau. Silver Volvo ini akan
menjadi mobil kesayanganku.
"Kau suka, Edward?" Tanya
Alice.
Aku menoleh pada Alice dan sedikit
berlari mendekatinya. Ketika aku mencapainya, aku mengangkat tubuh mungilnya
dan kuputar di udara. Aku mengecup pipinya dengan sayang. "Sangat suka,
Alice. Thank you, sister."
Alice terkikik senang ketika aku
mengecup pipinya. Rosalie mendekatiku dan seakan tidak mau kalah dari Alice,
dia memelukku dan mencium pipiku. "Selamat ulang tahun, Edward."
Aku balas mengecup pipi Rosalie dan kemudian
menatap Jasper. "Hei, terima kasih juga untukmu, Rose. Jasper"
Jasper memberikan anggukan dan
senyumannya. "Selamat ulang tahun, Edward."
"Tapi, tidak ada terima kasih
untukmu, Emmett. Kuanggap ini sebagai permintaan maafmu karena telah
mengerjaiku terus selama beberapa puluh tahun terakhir," tambahku sambil
nyengir menatap Emmett.
"Terserah kau sajalah,
Edward," ujar Emmett sedikit menggerutu.
Aku tertawa melihat Emmett dan kemudian
merangkul kedua saudara perempuanku.
"Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk
membalas kebaikan kalian?" Tanyaku.
"Memberiku seorang kakak
ipar?" Usul Alice.
"Memberiku seorang keponakan?"
Sambung Rosalie.
Aku mengeluh dan kedua saudariku ini
terkikik senang.
"Jangan meminta sesuatu yang tidak
bisa aku berikan. Maksudku, oke.Kakak ipar mungkin bisa aku berikan. Tapi,
keponakan untuk kalian? Jangan bercanda!" Tukasku.
"Oh, jangan terlalu yakin, Edward.
Akhir-akhir ini aku sering mendapat kilasan seperti seorang anak kecil,"
ujar Alice dengan dahi berkerut. "Seorang anak perempuan yang sangat
rupawan dan sangat mirip denganmu, Edward. Aku memang kurang jelas melihatnya,
tapi siapa tahu saja ini anakmu?"
Perkataan Alice membuat semua yang
mendengarnya melongo, terlebih lagi aku.
"Hei, kau punya anak, bung!"
Seru Emmett.
"Itu tidak mungkin, sayang,"
ujar Jasper lembut pada Alice.
"Yeah, vampire tidak bisa punya
anak, Alice," ujar Rosalie dengan nada seperti mencari pembenaran.
Aku merasa sedikit kasihan pada Rosalie.
Aku sangat tahu bahwa sejak masa manusianya, Rosalie sangat menginginkan
seorang anak. Tapi seperti kata Rosalie, vampire tidak bisa punya anak.
"Yah, vampire memang tidak bisa
punya anak. Tapi manusia bisa kan?" Ujar Alice sambil mengangkat bahu.
Seperti ada lampu menyala dalam kepalaku
saat mendengar ucapan Alice. "Maksudmu apa aku dan seorang manusia akan
memiliki seorang anak?"
"Itu gila, Alice," ujarku
mengakhiri semua pemikiran tidak masuk akal ini.
"Yah," kata Alice
lambat-lambat. "Kita tidak tahu kan?"
Aku terpaku menatap Alice. Aku? Dengan
seorang manusia? Akan memiliki seorang anak? Itu mustahil!