Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis
sukses muda broo.. ayok ikutan buat arkel di babe 1 artikel 50 ribu loo

Saturday, July 30, 2016

Cara bermain games di Google Chrome gratis tanpa koneksi internet

Assalamualaikum wr wb
selamat siang sobat.. kali ini saya akan berikan tutorial cara bermain games di Google Chrome tanpa KONEKS INTERNET, memang sih games ini bisa dibilang norak, namun lumayan lah buat nunngu connect kalok lagi eror koneksinya...HEHE
lansung aja ya ke caranaya :


  •    Usahakan laptop anda atu pc anda mempunyai Google Chrome, kenapa Google Chrome?? Kenapa gak mozila aja atau opera min?? krena disinilah tempat games ini berada.. simpel kan.. :D
  •  Laptop atau pc anda dalam keadaan tidak terkoneksi internet.. kenapa?? Karena kalok tekoneksi  internet maka otomatis games ini tidak bisa di mainkan, namanya juga maen games tanpa tekoneksi internet.. :D
  •  Nahhh langkah terakihir adalah kalian tinggal klik Google Chromee pada desktop agan, maka akan muncul gambar seperti ini ,..
 www.stylekirchhoff.blogspot.com

sekarang sobat tinggal klik space ajee nanti hewannya gerak sendiri kok..
misinya juga gampang, tinggal loncat-loncat pohon kaktus aja dan lewati para burung yang berterbangan.hehe
lumayanlah buat ngisi bosan di kala koneksi bermasalah..
sekian sob.. wassalamualaikum wr wb

Cerita lucu( pesan ayam goreng)

kring kring kring
Pegawai kfc : haloo, kfc delivery, ada yang bisa saya bantu??
Fredy : mbak saya mau pesan ayam sama nasi bisa mbak?
Pegawai kfc : bisa, berapa bungkus (kayak di warteg)?
Fredy : 1 aja mbak, tapi nasi sama ayamnya dipisah ya !!
Pegawai kfc : kenapa mas??
Fredy : nanti Kalok gak dipisahin nasinya habis di patok ayam dong...
pegawai kfc : kurang ajar @$#%#$@%#

Cerita lucu (pembalut buat nenek)

Pembalut buat Nenek

Nenek : Cuu ambilin pembalut cuu..Limpo : Hah buat apa emang nek ??!!
Nenek : Dah Gak usah crewet..
Limpo : Baiklah nek..
Stelah di ambilkan baru dibuka trus di pake di muka...
Limpo : Lohh… nek kok make pembalut di muka...
Nenek : Iyaa cuu buat ngilangin kerut.
Limpo : Hah !! ?? Emang bisa??
Nenek : Anti kerut anti bocor charm body fit….!!!!

The Curse of Nightmare((kutukan mimpi buruk)

CHAPTER 1
Aku berdiri di depan papan tanda ini lagi. Papan Tanda Biasa yg Bertuliskan "Horrorland". Di belakang ku berdiri 2 Orang yg tak kukenal. Dua gadis Remaja yg Umurnya Limabelas sama sepertiku. Tidak ada yg kami lakukan disini. Kami hanya menatap satu sama Lain . Kebingungan akan kemana karna ini hanya papan tanda. Tidak ada bangunan di dekatnya yg merupakan Horrorland.
Kami Bertiga Mencoba satu Langkah bersamaan. Tiba2 tanah berguncang dan kami masuk ke dalam tanah yg terbelah di kaki kami. Kami terus terjatuh dan terus terjatuh. Diiringi dengan jeritan melengking kami Bertiga
"TIDAAAKKKKKK....," Seketika itu juga aku bangun dari Mimpi Buruk itu. Ini adalah malam ketiga aku memimpikan ini. Ayah bilang ini karna aku gugup.
Aku melirik jam beker dimeja belajarku. sudah pukul 06.43. Ini hari pertamaku Sekolah SMA dan aku terlambat. setidaknya masih ada 17 menit yg tersisa. Sedangkan aku bersiap siap selama 30 menit untuk mandi dan Memakai seragam. Belum lagi aku harus menempuh jarak 5 km. setidaknya aku punya panda sbg kendaraanku.
Namaku Andrea Heatcliff. Aku berumur 15 tahun. jadi ini tahun pertamaku di SMA tapi aku terlambat jadi aku segera Bersiap siap secepet mungkin. Setelah itu aku berlari ke ruang makan untuk mengambil makan siang yg telah disediakan ibu. 2 Potong Sandwich selai kacang kesukaanku.
Ibu dan Ayah Sudah pergi ke kantor Mereka. Ayahku adalah seorang ilmuwan sedangkan ibuku adalah seorang Dokter. Mereka harus berada di Kantor mereka setidaknya pukul 05.00 paling lambat 06.00.
Setelah Mengambil Kotak makan siangku aku segera Naik ke hewan peliharaanku. Seekor Panda yg sudah kumiliki sejak umurku 5 tahun. dia sudah bagai sahabatku. Dia mengantarkanku sekolah dan menjagaku.
"Panda Yap yap" kataku. Kemudian panda segera berlari keluar dari halaman rumah dan berlari di pinggir jalan. Panda sudah tahu tempat sekolahku. Aku pernah mengajaknya kesana saat Mendaftar.
Tiba tiba seseorang yg menggunakan seragam yg sama menyenggol kami dengan sepedanya. Dia tampak terburu buru. Kurasa dia terlambat juga.
"Aku akan Terlambat" teriaknya. Ranselnya tidak di seret sepenuhnya sehingga aku melihat kotak makan siangnya hampir jatuh.
" Panda lebih Cepat " kataku karna takut terlambat. Lagi pula orang itu sudah jauh. aku tak ingin jadi satu satunya yg terlambat.
Beberapa Menit Kemudian aku melihat sepeda tergeletak di tanah. tas ransel dan kotak Makan siang yg sama persis seperti milik orang tadi. Kemudian ada mobil jazz putih dengan supir yg ketakutan . Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat 2 org gadis dengan seragam yang sama sepertiku. mereka sedang berkelahi. sepertinya tadi mereka tabrakan. Dari gerakan mereka Kurasa Yg tadi Memakai sepeda adalah aliran Taekwondo. Sedangkan yg satunya yg mempunyai mobil dengan supir paruh baya Adalah Aliran Karate. Ini benar benar keren.
Maksudku sungguh. Aku mengikuti Kung Fu. Ini adalah 3 aliran yg berbeda. kuharap kami bertiga bisa jadi Sahabat. setidaknya teman. Aku terus melamun sampai aku sudah dekat dengan mereka dan telat memerintahkan panda untuk berhenti. Jadi aku berteriak "Awaaasss......,"

Mereka Berdua Melirikku dan Kamipun bertabrakan.
"Aduh" Pekik kami bersamaan.
Aku memperhatikan mereka kemudian aku terkejut. Mereka bertiga ada dalam mimpiku. Mimpi buruk yg terus menghantuiku.
" Hei kau mau mencara masalah denganku ?" kata yg berambut Coklat Sebahu. Rambutnya berantakn kurasa dia belum sempat merapikannya atau mungkin tertiup angin seperti rambutku.
" Kalian berdua membuat aku terlambat sekolah. Kalian akan kuberi pelajaran" Kata yg Pirang dengan rambut panjang sepinggang.
" Oh tidak" kataku sadar
" Kalau takut jangan cari masalah " Kata sipirang.
" Bukan itu. Kita terlambat " kataku segera naik ke panda lalu berkata "Panda Yap yap"
" Dia benar" kata yg berambut Coklat. Dia segera naik sepedanya tanpa menghiraukan kotak makan siangnya yang tumpah. Sedangkan si rambut pirang segea masuk ke mobilnya.
Kami bertiga berpacu secepat cepatnya menuju sekolah karna kami terlambat. Si rambut coklat memimpin di depan dengan sepedanya yg kencang. Sedangkan aku ditengah. Dan yg pirang harus menunggu karna lalu lintas macet.
Sesampainya disekolah , kami sudah terlambat. Satpam telah menutup gerbang. Si rambut coklat memarkir sepedanya lalu melompat dengan gerakan Taekwondonya. Aku menaruh panda tanpa perlu mengikatnya karna dia takkan kabur. Dan melompat dengan jurus Kung Fu ku. Si rambut coklat telah masuk ke kelas Xa lebih dulu. aku tak tahu dimana kelasku jadi aku membaca Nama nama yg tertera dari kelas Xc sampai ketika aku membaca Xa. Namaku ada diurutan ke 3. yg Pertama adalah Alice Compton dan Yang kedua adalah Amy Marshall. aku tidak tau siapa itu jadi aku segera masuk kedalam.
Guru belum datang jadi aku menghembuskam nafas lega. Deretan Bangku pertama Sudah terisi. Yang kedua kosong 2 kursi. aku segera duduk disana. aku memiih yang dekat dengan tembok dekat pintu. Si rambut coklat duduk di belakangku. Dan sisanya tampak asing. tak ada yg kukenal.
Setelah Pukul 07.55 si Rambut Pirang datang. Dia datang sebelum Guru masuk kelas. Dia duduk di dekatku. Kurasa dia tidak ingin duduk di belakang. Guru masih tidak datang sampai Pukul 09.00. Dia adalah pria paruh baya yg mengajari kami pelajaran Biologi. tidak ada yg bicara sampai waktu keluar main. Aku segera mencari Lokasi katin.
Ketika aku melihat para murid berdatangan ke sebuah lorong aku jadi tau kalau itu adalah kantin. 3 Orang menghadangku Ketika aku akan masuk ke Lorong itu. Mereka semuanya pria. Mereka kelihatannya nakal dan suka mengambil uang jajan orang. Dari ukuran tubuhnya kurasa mereka kelas XII.
" Bos kami lupa membawa uang jajan apa kau keberatan memberinya Pinjaman ?" kata yg kurus tinggi. Kurasa aku bisa menjatuhkannya hanya dengan sekali pukul.
" Apa kau tuli ? atau kau bisu ? " Kata yg pendek Gendut membuat yang lain tertawa. Kurasa aku bisa menjatuhkannya hanya dengan satu pukulan dan dia takkan bangun bangun.
Tanpa pikir panjang aku mencoba menendang yg tinggi kurus tapi dia bisa menangkisnya. dia melempar kakiku lalu memberikan tinju tapi aku bisa menghindar. si gendut menyerangku dengan perutnya sehingga aku terpental ke belakang.
Sikurus dan si gendut meliril bosnya
" Ambil Uangnya lalu tinggalkan dia" kata bossnya menyilangkan tanganny di dada sambil meniup permen karet.
Sikurus berjalan akan menangkapku tapi aku menunduk lalu menyepak kakinya sehingga dia terjatuh. Si Gendut berusaha menyerangku dengan tangannya. dari gayanya kurasa dia mengikuti Aliran Sumo. Dan yang kurus Kapuera. Ketika sikurus sudah bangun aku segera mengambil sikap Kung fu ku. untuk berjaga jaga.
Si gendut Menyerang dengan tangannya tapi aku segera menarik tangannya lalu menendang perutnya. dia terjatuh. lalu bossnya yg membantunya berdiri. Si berusaha menyepak kakiku tapi aku segera lompat dan menendang kepalanya.
" Cukup Sudah " kata bossnya membuang permen karet lalu menendang perutku sebelum aku sempat menangkisnya. aku terpental lalu berguling di tanah. kurasa bossnya ikut Boxer. Dia akan menyerangku lagi. aku segera menutup mata dan berlindung tapi serangan siboss tertunda oleh teriakan 2 gadis.
" Hei " kata si rambut coklat dari kelas Xa yg mengikuti Taekwondo
"Carilah lawan Seimbang" Kata yang berambut Pirang yg mengikuti Karate. Kurasa sekarang mereka berteman.
mereka berdua membantuku berdiri. Siboss bergabung dengan Anak buahnya. kini kami seimbang. 3 lawan 3. Sebelum kami mulai berkelahi mereka bertiga segera pergi.
"Pergilah kau dasar pengecut" teriak sipirang.
Tiba tibalonceng berbunyi. Kurasa karna itu mereka pergi. bukan karna mereka takut.
"Terima Kasih" kataku pada mereka. " Sekarang kalian berteman ?" tanyaku.
" Ya. kurasa begitu. " Kata yg berambut Coklat " Amy membantuku melawan para perampok yg ingin menodongku tadi"
" Bukankah kau bisa taekwondo ?" tanyaku mengikuti mereka ke kelas.
" Memang tapi jumlah mereka ada lima. dan semuanya adalah aliran judo. Aku tak tahu cara menghadapinya. lalu amy membantuku"
"Jadi namamu Amy ?" tanyaku pada si pirang ketika kami sudah berada di kelas.
" Amy Marshall" dia mengoreksi " Dan ini Alice Compton. Kau ?"
Aku rasa aku pernah mendengar atau mungkin membaca nama nama itu tapi aku lupa dimana.
" Aku Andrea Heatcliff" kataku tak mau membuat mereka menunggu.
Sebelum kami sempat melanjutkan obrolan kami Guru bahasa inggris kami datang. Kami segera fokus ke pelajaran. Sampai jam pulang sekolah.Kami bertiga jalan keluar gerbang. Aku mencari pandaku tapi tak ada.
"Ada yg salah ? " Tanya amy. Alice segera turun dari sepedanya lalu menghampiri kami.
" Pandaku tak da disini " kataku murung
" Aku tak pernah melihat panda" kata alice.
" Aku melihatnya. Andrea menggunakannya sbg kendaraan untuk kesini" Kata amy.
" Kurasa Satpam itu mengetahuinya. Mari kita tanya" Saran Alice. Kami segera menghampiri penjaga gerbang.
"Permisi pak, apa kau melihat seekor panda ?" tanyaku.
Satpam itu hanya menggeleng. Kemudian amy menyodorkan Beberapa lembar uang. Satpam itu segera mengambil uang lalu menunjuk ke belakang sekolah.
Kami segera kesana. Yg ada hanya hutan bambu. tak ada Panda. tapi aku segera sadar pasti panda sedang mencari makan.
" Kurasa Panda sedang makan. Kalian bisa pulang duluan. aku akan menyusul " Kataku tak enak membuat mereka menungguku.
"Ayolah Andrea kita ini teman " kata Alice. Amy mengangguk.
" Terima kasih teman teman. " kataku.
Kami segera masuk ke dalam hutan bambu sambil meneriakkan kata "Panda" Tapi Kami tak menemukannya. Semakin lama kami semakin masuk kedalam hutan. Kemudian kami melihat pondok tua yg kecil. Aku melihat panda diikat disana.
" Hei, itu Panda " kataku menunjuk pondok tua itu. Amy dan Alice segera melihat.
" Ayo kita bebaskan dia" kata Amy. Panda bersorak sorai gembira ala panda ketika dia melihat kami. Tiba tiba keluar nenek tua dengan pisau ditangannya.
" Kenapa ribut ribut panda ? Saatnya menemui Ajalmu" katanya kemudian terkejut melihat kami bertiga.
" Siapa kalian ?"
" Kau tak perlu tau siapa kami . tapi itu pandaku " Kataku.
" Jadi ini milikmu ? tidak lagi. Dia adalah makan malamku" Kata Nenek itu mengayunkan pisaunya.
" Serahkan panda itu atau kau terima akibatnya " Kata Alice. Kami bertiga segera mengambil sikap Aliran kami.
"Kau bisa bela diri ?" tanya Amy
" Ya aku ikut Kung Fu" kataku
" Mari berpesta" kata Alice segera menerjang maju. Lalu menyerang dengan kakinya. Kaki alice mengenai pisau si Nenek sehingga pisau itu terpental ke atas lalu menancap di hadapan kaki si nenek.
" Kesalahan Besar" Kata si Nenek mengambil pisaunya. Pisaunya segera Berubah Menjadi tongkat sihir. " Dengan kekuatan tongkat ini. Kukutuk kau Pergi Ketempat mimpi terburukmu "
Sebelum sihirnya mengenai kami , Panda menerjang dari samping kanan si nenek sehingga sihirnya mengenai pohon di samping kiri si nenek. Setelah itu panda berlari ke arahku.
Si nenek menggeram lalu segera mengayunkan tongkatnya lagi sebelum kami lari. Aku, Alice, Amy dan Panda terkena Sihir itu dan Kini Kami terkena Kutukan itu. Kami Menghilang dari dunia nyata dan pergi ke Mimpi Burukku.

Cerita lucu,Pembantu baru


Pembantu Baru

Bu Mirah sedang memperkenalkan baby sitter nya yang baru kepada anaknya si joni yang baru berusia 4 tahun.
Bu Mirah : "Joni, ini baby sitter kamu yang baru!
Joni : "kok ganti lagi sih bu ?
Bu Mirah : "Iya, baby sitter yang kmaren kurang rajin, ayo cium!
Joni : "Gak mau ah...!!!
Bu Mirah : "Kenapa?
Joni : "Tadi pagi ayah menciumnya langsung di tampar...!!!
Bu Mirah : "Apaaaa...!!!!????"

#Hati-hati pembantu baru .. wkwkw

Preman Mati Mengenaskan Tapi Kuburannya Ada Lantunan ADZANNYA

Preman Mati Mengenaskan Tapi Kuburannya Ada Lantunan ADZANNYA !!
 www.stylekirchhoff.blogspot.com


Jagan pernah melilai orang lain telalu buruk karena perbuatannya, sejahat-jahatnya manusia pasti dalam nuraninya mempunyai rasa kasih kasian.. seperti dalam cerita ini, seorang PREMAN KEJAM NAMUN DALAM KUBURANNYA TERDENGAR SUARA AZAN, Begini ceritanya....

Seorang preman yang dikenal bengis hidup di kota Surabaya. Ia terkenal suka menjambret & melakukan tindak kekerasan. Jika korban tidak mau menyerahkan harta yang diminta olehnya, tidak segan segan ia membacok korban tersebut.
Warga sekitar dimana ia tinggal pun benar-benar resah dan amat sangat takut.Suatu saat preman tersebut sakit. Sakitnya pun parah. Kebanyakan orang bilang sakitnya akibat kualat dari perbuatannya yang kejam sekali. Tidak ada warga yang mau menjenguk dan bersimpati kepadanya. Warga malah mendoakan si preman supaya cepet MATI & MODAR.Suatu hari sang preman berteriak-teriak kesakitan. Kemudian warga mulai mendatanginya. Ia kemudian mati dengan MENJULURKAN LIDAH dan mulutPENUH BUSA. Warga langsung menguburkannya ke kuburan setempat.
Warga berbondong-bondong mengiringi jenazah sang preman.Setelah sampai di kuburan, warga memasukkan jenazah sang preman ke liang kubur. Ada yang mendoakan supaya diampuni dosanya, ada yang meludahi kuburannya akibat dendam. Setelah penguburan selesai, warga langsung pulang.
Sejak saat itu, kuburan menjadi suatu tempat yang angker. Setiap hari warga sekitar & tukang penjaga kuburan selalu mendengar bunyi orang ber adzan dalamkuburan si preman. Setiap hari selalu terdengar, bahkan teratur, 1 hari 5 kali.
Setelah beberapa hari... warga mulai memberanikan diri.Mereka berdiskusi & sepakat untuk menggali kubur sang preman. Dalam suasana mencekam mereka pun menggali kubur.Dengan tangan gemetaran, para warga mulai menggali tanah perlahan demi perlahan.
NAMUN ADA SATU HAL YANG TAK TERDUGA YANG DIDAPATI OLEH WARGA !!!!!!TERNYATA........HAPE ESIA HIDAYAH SI TUKANG GALI KUBUR KETINGGALAN DIDALAM LIANG KUBUR SI PREMAN !!!!!!!


(Jangan terlalu seriuss sob... :-D )

Friday, July 29, 2016

sinopsis The Curse of Nightmare

" The Curse of Nightmare "
 www.stylekirchhoff.blogspot.com

Sinopsis
Apa yg akan kau lakukan jika kau mendapat kutukan ? 
Kurasa kau pasti akan berusaha menghilangkannya kan? Begitu pula yang terjadi pada Andrea HeatCliff. dia mendapat kutukan Mimpi buruk. yg Artinya mimpi buruknya jadi kenyataan. 
Andrea Sering Bermimpi bahwa suatu hari dia dan sahabatnya pergi ke sebuah tempat di mana semua cerita jadi kenyataan. Dan Nama Tempat itu adalah Horrorland. Mimpinya menjadi kenyataan ketika dia mulai bersahabat dengan Alice Compton dan Amy Marshall.
Mereka Bertiga tak sengaja menemukan Pondok penyihir di hutan dekat sekolah mereka. Kini mereka Terjebak dalam mimpi buruk Andrea. Satu satunya cara untuk bebas adalah menyelesaikan misi dari Penguasa Cahaya. yaitu mengambil mahkota Yg memiliki akses tak terbatas sesuai dg pikirin pemakai. Tapi sayangnya mahkota itu dipakai oleh Penguasa Kegelapan, (Kakak Penguasa Cahaya). 
Jika mereka gagal dalam misi ini, Mereka akan terjebak dalam mimpi buruk Andrea Selamanya......,
BERHASIL KAH MEREKA KELUAR DARI MIMPI BURUK ANDREA...???

 nantikan ceritanya.... 

Wednesday, July 27, 2016

Before Edward Meet Bella (chapter 6)




Chapter 6
"Sudah siap, Edward?" Tanya Carlisle.
Hari itu keluarga Cullen akan pindah ke Forks. Sebentar lagi Carlisle, Esme dan Edward akan segera berangkat dengan Mercedez milik Carlisle. Alice, Jasper, Rosalie dan Emmett sudah berangkat lebih dulu dengan menggunakan Volvo hadiah ulang tahun dari mereka sendiri untuk Edward. Alice mengajak mereka pergi ke Port Angeles untuk berbelanja karena dia mendengar info bahwa sedang ada diskon besar-besaran di salah satu pusat perbelanjaan sampai jam dua belas siang.
Sejak semalam, Edward sama sekali tidak bersuara dan itu membuat kedua orangtua angkatnya khawatir.
Esme menghampiri Edward dan memeluk bahunya dengan lembut. "Edward, kalau kau tidak mau pergi, tidak apa-apa."
Edward mendengar ketulusan dan rasa sayang dalam suara Esme. Esme adalah sosok ibu terbaik yang bisa dimiliki oleh siapapun. Melihat Esme yang tersenyum padanya, Edward merasa tidak sanggup jika harus berpisah dengan Esme. Dia tahu bahwa Esme akan kehilangan dirinya jika dia memilih untuk tinggal. Bagaimanapun, Edward adalah sosok anak pertama yang dimiliki oleh Esme.
"Tidak, Esme. Aku akan ikut denganmu dan Carlisle," Edward akhirnya mengeluarkan suaranya.
Esme tersenyum dan membelai lembut bahu Edward dengan penuh sayang. Edward balas tersenyum pada Esme.
"Jangan sungkan untuk berkunjung kemari lagi, Carlisle, Esme," suara Eleazar terdengar di belakang Edward. "Kau juga Edward," lanjut Eleazar sambil tersenyum penuh arti pada Edward.
"Terima kasih, Eleazar, Carmen. Kalian sudah mengijinkan kami tinggal disini walau hanya sebentar," kata Carlisle.
Eleazar melambaikan tangannya seolah mengatakan hal itu bukan apa-apa. "Sama-sama, Carlisle. Kita kan sudah seperti keluarga."
Sementara Carlisle, Esme, Eleazar dan Carmen sedang sibuk mengucapkan salam sampai jumpa, Edward memandang ke arah jendela ruang tamu, dimana sesosok gadis berambut pirang sedang mengintip dan mengamati Edward dari balik tirai.
Edward bertatapan dengan Tanya selama beberapa saat sebelum Tanya berbalik masuk ke dalam rumah dan menutup tirai. Edward menatap jendela itu selama beberapa saat dengan tatapan aneh.
"Edward?" Panggil Carlisle. "Bisa kita berangkat sekarang?"
"Ya," jawab Edward tanpa mengalihkan pandangannya. "Tentu saja."
Perlahan kemudian Edward berbalik. Jika dia masih bisa bernapas, pastilah sekarang dia sedang menghela napasnya. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan, tapi dia merasa sedikit kehilangan. Berpuluh-puluh tahun dia tinggal bersama dengan keluarga Denali dan sekarang dia harus ikut pergi meninggalkan mereka.
Sudahlah dia masih punya berdekade-dekade lamanya untuk bisa mengunjungi mereka lagi.
"Edward!"
Suara Tanya membuat semua yang berada disitu menoleh. Tanya berlari keluar rumah dan menghampiri Edward dengan cepat.
"Maaf, Carlisle? Boleh kupinjam Edward sebentar saja?" Pinta Tanya pada Carlisle.
"Tentu saja boleh, Tanya," jawab Carlisle sambil tersenyum. Carmen menyenggol Eleazar dan mereka tersenyum penuh arti.
"Terima kasih." Tanpa menunggu lagi, Tanya segera menarik Edward sampai ke belakang rumah.
"Tanya ?"
"Ini untukmu," Tanya mengulurkan kotak berwarna perak pada Edward.
"Apa ini?" Tanya Edward bingung.
"Buka saja sendiri," kata Tanya. Dengan susah payah dia berusaha menyembunyikan bayangan isi dalam kotak itu supaya Edward tidak bisa melihat isinya dalam pikirannya. Kerut kecil di antara kedua alis Edward membuktikan bahwa Tanya berhasil menyembunyikan pikirannya.
Edward menarik pita merah yang mengikat kotak perak itu dan membukanya. Kemudian Edward menarik keluar rantai kalung dengan bandul kristal yang berkilau. Kristal berbentuk hati itu berukirkan nama'Edward'. Tanya sangat suka pada kristal.
"Tanya?"
"Terimalah, Edward. Itu khusus ku buat untukmu," ujar Tanya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Tanya. Ini sungguh— spesial,"
"Senang kalau kau menyukainya, Edward. Kuharap kau memakainya," ujar Tanya.
"Tenang saja. Tapi itu bukan berarti aku mengharapkan apa-apa," lanjut Tanya dengan cepat.
'Walaupun aku berharap suatu saat nanti aku bisa menggantinya dengan bandul kristal berukirkan namaku,' batin Tanya.
Edward mengangkat alisnya, "Tidak mengharapkan apapun, eh?"
"Sial!" Umpat Tanya. "Kau membaca pikiranku lagi!"
Edward terkekeh. Kemudian dia mengalungkan kalung itu ke lehernya yang putih pucat.
"Kalau begitu belajarlah lagi untuk menyembunyikan pikiranmu supaya tidak terbaca olehku saat aku kembali kesini nanti."
Edward tersenyum geli melihat Tanya yang membulatkan matanya seolah tidak percaya dengan kata-katanya barusan.
"Kau akan kembali kesini? Sungguh?" Tanya menatap Edward dengan berharap.
"Kupikir tidak ada salahnya kan aku main-main kesini? Akan sangat menyenangkan untuk bisa berkunjung kesini lagi saat aku mulai bosan dengan suasana Forks nanti," jawab Edward.
"Tapi itu juga kalau aku masih diperbolehkan berkunjung kesini lagi oleh Eleazar dan Carmen," gurau Edward.
"BOLEH! Tentu saja boleh, Edward! Akan kupastikan! Aku sendiri yang akan memastikan bahwa rumah ini selalu terbuka untukmu," seru Tanya dengan bersemangat.
Edward tertawa melihat tingkah Tanya yang tampak sangat bersemangat. Secara refleks Edward mengulurkan tangannya untuk mengacak- acak rambut Tanya.
"Sudah ya. Aku harus segera kembali pada Carlisle dan Esme. Aku tidak boleh membuat mereka terlalu lama menunggu," pamit Edward.
"Ya. Tapi berjanjilah, Edward. Kau pasti akan berkunjung kesini kan?" Kata Tanya.
"Aku janji," ujar Edward.
Tanya tersenyum dengan sangat manis. Dan entah apa yang mendorong Edward untuk mencium pipi Tanya.
Namun segera menariknya karna Tanya memalingkan wajahnya ke arah Edward.
"Sampai jumpa, Tanya!" Edward berlari meninggalkan Tanya yang masih terpana dan tidak percaya. Edward baru saja mencium pipinya? Seandainya jantungnya masih berdetak, pastilah sekarang organ tubuh itu sedang berdetak dengan cepatnya.
-o-O-o-
Forks
"Welcome home, Edward," ujar Carlisle setelah dia, Edward dan Esme memasuki rumah mereka yang baru di kota Forks.
Forks adalah kota kecil di Amerika yang memiliki curah hujan tinggi per tahunnya. Tapi selain itu, Forks adalah kota yang cukup indah. Pepohonan berjajar dengan rapi di sepanjang jalan kota ini. Forks juga terkenal dengan pantainya yang indah—terutama jika dilihat saat senja.
"Alice pastilah sudah sampai," gumam Esme sambil tersenyum.
Melihat ruangan utama rumah itu sudah didekorasi dengan berbagai macam pita dan hiasan, tentu saja dengan cepat bisa disimpulkan bahwa Alice pastilah sudah sampai. Siapa lagi yang begitu bersemangat untuk mendekorasi ruangan seperti itu? Alice-lah si ratu pesta.
"Alice," panggil Carlisle. "Jasper, Emmett, Rose."
Dalam hitungan detik, Alice, Jasper, Emmett dan Rosalie sudah berdiri di depan ayah angkat mereka.
"Ya, Dad?" Balas Alice dengan riang seperti biasa.
Carlisle tersenyum mendengar panggilan dari anak angkatnya yang paling mungil itu.
"Ada yang harus kubicarakan. Supaya kita bisa tinggal cukup lama disini, aku sudah memutuskan bahwa kalian akan bersekolah lagi disini. Mengulang SMA. Semua ijazah dan surat-surat yang diperlukan untuk mendaftar akan kuurus nanti. Bagaimana? Apa kalian berlima setuju?" Tanya Carlsile.
"Boleh-boleh saja, Carlisle!" Alice langsung menyetujui tawaran Carlisle.
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Aku setuju juga," kekeh Emmett.
"Tidak masalah untukku, Carlisle," kata Jasper.
"Baik," jawab Rosalie dengan sangat singkat.
Semua mata tertuju pada Edward.
"Aku setuju saja," gumam Edward akhirnya.
"Baiklah kalau begitu. Kalau kalian setuju, satu jam lagi aku akan berangkat ke Port Angeles dan mengurus semua surat yang dibutuhkan. Dengan membayar tentunya," kata Carlisle dengan nada humor pada tiga kalimat terakhir.
"Kapan sekolah itu dimulai?" Tanya Esme.
"Kalau surat-suratnya bisa selesai dengan cepat, maka kira-kira minggu depan mereka sudah bisa bersekolah di Forks High School," jawab Carlisle pada Esme.

nantikan chapter 7nya...
Top of Form
Bottom of Form

Tuesday, July 26, 2016

Before Edward meet Bella (chapter 5)



Chapter 5
"Aku tidak akan menyerah, Edward."
Aku bisa melihat mata Tanya yang menyala penuh tekad saat mengatakan bahwa dia tidak akan menyerah. Entah mengapa, aku tersenyum mendengar kata-katanya. Mungkinkah aku hanya ingin menggodanya? Oh kuputuskan untuk sedikit 'bermain-main' dengan vampire-pantang-menyerah ini.
"Maukah kau membuktikannya, Tanya?" Seringaiku.
Tanya mengerjap mendengar tantanganku. "Apa?"
"Kau serius, Edward?" Tanyanya lagi kurang percaya.
Aku tersenyum untuk menjawab dan Tanya mengartikan itu sebagai 'ya'.
"Baiklah, akan kubuktikan padamu. Aku pasti bisa mengambil hatimu. Tunggu saja waktunya, Edward. Oh ini hanya masalah waktu," ujar Tanya dengan riang. Senyum lebar kembali tertempel di wajah cantiknya.
"Akan kutunggu, Tanya," tantangku.
"Yeah, akan kubuktikan asal kau tidak terus menerus menghindariku, Edward," ujar Tanya sedikit galak. "Percuma saja kau memberiku kesempatan untuk mengambil hatimu tapi kau terus menjauh dan menghindariku."
Aku terkekeh mendengarnya. "Baik, kuberi kau kesempatan. Tapi aku tidak janji akan berpaling padamu."
"Ouch, itu menyakitkan, Edward. Seolah kau mengatakan bahwa semua usahaku akan sia-sia," gurau Tanya pura-pura tersinggung.
" Baiklah," aku terkekeh. "Aku mau masuk sekarang."
"Aku juga!" Seru Tanya riang. "Ayo!" Tanya menarik tanganku dan mengajakku masuk sambil tertawa-tawa.
Suasana di ruang keluarga Denali tampak hangat. Carlisle, Esme, Eleazar dan Carmen tampak sedang berbincang-bincang. Kate dan Irina berkumpul bersama Rosalie, Emmett, Jasper dan Alice. Begitu aku dan Tanya memasuki ruangan, semua pandangan vampire dalam ruangan itu terarah pada kami berdua, apalagi dengan tanganku yang berada dalam genggaman Tanya. Rosalie menatap tajam Tanya dan langsung melengos begitu melihat Tanya menyunggingkan senyum kemenangan.
Aku sendiri tidak tahu apa yang sekarang membuatku sedikit luluh di hadapan Tanya. Padahal sampai tadi sore aku masih begitu dingin padanya. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri Tanya dan tidak ada salahnya jika aku memberinya kesempatan.
"Ah, Edward, kau sudah pulang rupanya," sapa Carlisle dengan senyumnya yang lebar. Esme dan Carmen juga tersenyum.
"Apakah ada eh perkembangan baru?" Tanya Eleazar. Matanya menatap tanganku yang masih digenggam oleh Tanya.
Dengan senyumku yang biasa, perlahan aku melepaskan tanganku dari Tanya. Aku bisa merasakan kekecewaan Tanya ketika aku menarik tanganku. Eleazar juga tampak sedikit terkejut melihat aku langsung melepaskan tanganku.
"Tidak. Tidak ada apa-apa, Eleazar. Aku hanya baru saja meluruskan sesuatu dengan Tanya," senyumku. "Iya kan, Tanya?"
"Eh iya," jawab Tanya.
"Ah begitu rupanya. Yah tidak apa-apa. Aku senang jika kalian semua bisa akrab dan kita bisa menjadi keluarga yang baik," ucap Eleazar. Lagi-lagi aku menangkap arti tersembunyi dalam kata 'keluarga' yang di ucapkan oleh Eleazar. Sepertinya Tanya juga mengerti maksud tersembunyi dari Eleazar, tapi dia hanya tersenyum senang.
"Aku juga merasa senang jika itu bisa terwujud, Eleazar," ucap Tanya riang.
Aku bisa mendengar pikiran Tanya berkata, 'Aku pasti bisa membuatmu berpaling padaku, Edward. Lihat saja nanti.'Sedangkan pikiran Rosalie berkata, 'Oh awas saja kalau sampai Edward terpengaruh oleh si centil ini. Akan ku ajak Tanya bertarung dan kurobek lehernya.'
Aku sedikit tersentak dan menatap Rosalie yang sedang menatapku dan Tanya bergantian sambil memamerkan taring-taringnya yang tajam.
'Kau dengar itu kan, Edward?' Kata suara dari pikiran Rosalie. Aku hanya mendengus untuk menjawab dan Rosalie menyeringai semakin lebar.
"Edward." Tiba-tiba Alice sudah berada di sebelahku. "Ada yang ingin kubicarakan."
Aku menatap Alice dan mencoba membaca pikirannya, berusaha mencari tahu apa kira-kira yang ingin makhluk mungil ini bicarakan. Tapi aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang bisa memberiku petunjuk tentang apa yang akan dibicarakan Alice. Oh—bagus, makhluk kecil ini sudah semakin pintar menyembunyikan pikirannya. Latihan selama bertahun-tahun mungkin?
"Baiklah, Alice," ujarku dengan setengah menggerutu. Alice tersenyum pada Tanya dan menarikku menjauh.
Alice membawaku menuju halaman belakang. Saat kami melewati Rosalie, Emmett dan Jasper, mereka langsung mengikuti aku dan Alice. Kupikir Alice akan melarang mereka, tapi ternyata Alice hanya diam saja dan membiarkan mereka mengikuti kami.
"Ada apa sih, Alice?" Tanyaku mulai kesal. "Kenapa sampai sejauh ini?"
Alice terus menarik tanganku sampai kami masuk ke hutan di belakang rumah keluarga Denali. Rumah ini memang terletak di tengah hutan.
"Baiklah, disini saja." Alice akhirnya berhenti menarik tanganku dan berbalik menghadapiku. Mata polosnya menelusuri wajahku dan membuatku sedikit mengernyit.
"Karena sekarang sudah jam dua belas malam..." Kata-kata Rosalie terpotong oleh Alice.
"Biar aku yang mengatakannya, Rose!" Seru Alice agak kesal. Rosalie nyengir dan mengangkat bahunya.
"Ada apa, Alice?" Aku mulai penasaran.
"Selamat Ulang Tahun, Edward!" Seru Alice girang. Aku sedikit terkejut mendengarnya. Ulang tahun?
"Apa? Ulang tahun?" Tanyaku bingung.
"Ya, sekarang sudah tanggal 20 Juni, Edward. Jadi, selamat ulang tahun yang ke 68 secara manusia," ucap Alice nyengir senang. Aku mendengar Emmett terkekeh dan pikirannya berkata, 'Sudah jadi kakek rupanya, bung?'
Aku melirik sebentar pada Emmett sebelum Alice mengambil kembali perhatianku.
"jadi saat kau dan Rosalie sedang berburu, aku, Jasper dan Emmett meminjam mobil Carlisle dan turum ke kota. Kami menemukan hadiah yang cocok untukmu—"
"Alice, kalau kau hanya mau mengucapkan selamat ulang tahun, kenapa harus membawaku ke tengah hutan seperti ini? Kau tahu kan disini banyak nyamuk?" Kataku sedikit menggoda.
Emmett tertawa keras-keras mendengar ucapanku. "Oh, peduli apa dengan nyamuk, Edward? Toh kita juga sama seperti makhluk-makhluk kecil itu. Sama-sama menghisap darah."
Alice menatap Emmett dengan tatapan menegur. Tetapi saat Alice kembali menatapku, aku yakin dan aku berani bersumpah aku melihat matanya berkilat jahil.
"Oh, kau lebih suka aku mengatakannya di dalam? Di depan semuanya dan menyerukan lagu selamat ulang tahun untukmu? Yang ke-68, eh?" Kekeh Alice. "Di hadapan Tanya?"
Aku berpikir sebentar dengan jawaban Alice. Otakku masih sulit untuk mencerna sesuatu.
"Kalau kau mau Tanya tahu bahwa kami merayakan ulang tahunmu, silakan saja. Tapi pikirkan apa yang kira-kira akan dia lakukan kalau tahu bahwa kau berulang tahun," tukas Rosalie tidak sabar. "Memberimu ciuman selamat di hadapan kami semua mungkin? Dan meresmikan hubungan kalian? Ah, manis sekali, Edward."
Aku melotot kesal ke arah Rosalie yang tersenyum masam padaku. Oke, alasannya memang masuk akal dan bisa diterima.
"Jadi? Apa hadiahku?" Pertanyaanku ini sepertinya bisa membuat Alice melompat-lompat saking girangnya. Adik menyebalkanku ini memang selalu menjadi yang paling bersemangat jika ada suatu perayaan.
"Sebenarnya aku mau menghadiahkan jodoh untukmu, Edward," goda Emmett. Oh, tidak. Itu lagi yang dikatakannya? Benar-benar mengesalkan. "Tapi setelah ku pikir lagi, kau kan sudah punya Tanya sekarang."
Aku benar-benar tidak sabar lagi. Kutinju Emmett dan ku ajak bergulat.
"Hadiahku cukup dengan mengijinkanku menghajarku, Emmett. Sialan kau!" Geramku.
"Sudah cukup, kalian berdua! Kalian benar-benar membuatku kesal," tukas Alice jengkel. Dia memang akan langsung sewot jika acaranya dirusak.
"Maaf, Alice," gumamku sambil tetap melotot pada Emmett yang masih terkekeh senang karena sudah membuatku kesal.
"Kemarilah, Edward. Aku ingin menunjukkan hadiahmu," ajak Alice sambil mengulurkan tangannya padamu.
Aku meraih tangan Alice dan membiarkannya membawaku berlari lebih jauh ke dalam hutan. Alice terus berlari selama beberapa saat dan berhenti di sebuah tanah kosong. Disitu sudah ada satu bangunan kecil yang tampaknya masih baru.
"Kalian memberiku rumah? Tapi kecil sekali?" Tanyaku bingung.
"Bukan, Edward. Dan itu bukan rumah. Hadiahmu ada di dalam sana," ujar Alice sambil membawaku ke arah rumah itu. Alice membuka kuncinya dan membuka lebar-lebar rumah itu sampai aku bisa melihat sesuatu yang tertutup kain.
"Mobil?" Desahku pelan.
"Ya! Lihatlah, Edward. Aku yakin kau akan suka!" Seru Alice dan dengan semangat dia menarik kain itu.
Aku sedikit terkagum melihat mobil yang masih berkilat itu. Perlahan aku berjalan mendekati mobil hadiahku dan menyentuhnya. Badan mobilnya masih licin dan berkilau. Silver Volvo ini akan menjadi mobil kesayanganku.
"Kau suka, Edward?" Tanya Alice.
Aku menoleh pada Alice dan sedikit berlari mendekatinya. Ketika aku mencapainya, aku mengangkat tubuh mungilnya dan kuputar di udara. Aku mengecup pipinya dengan sayang. "Sangat suka, Alice. Thank you, sister."
Alice terkikik senang ketika aku mengecup pipinya. Rosalie mendekatiku dan seakan tidak mau kalah dari Alice, dia memelukku dan mencium pipiku. "Selamat ulang tahun, Edward."
Aku balas mengecup pipi Rosalie dan kemudian menatap Jasper. "Hei, terima kasih juga untukmu, Rose. Jasper"
Jasper memberikan anggukan dan senyumannya. "Selamat ulang tahun, Edward."
"Tapi, tidak ada terima kasih untukmu, Emmett. Kuanggap ini sebagai permintaan maafmu karena telah mengerjaiku terus selama beberapa puluh tahun terakhir," tambahku sambil nyengir menatap Emmett.
"Terserah kau sajalah, Edward," ujar Emmett sedikit menggerutu.
Aku tertawa melihat Emmett dan kemudian merangkul kedua saudara perempuanku.
"Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan kalian?" Tanyaku.
"Memberiku seorang kakak ipar?" Usul Alice.
"Memberiku seorang keponakan?" Sambung Rosalie.
Aku mengeluh dan kedua saudariku ini terkikik senang.
"Jangan meminta sesuatu yang tidak bisa aku berikan. Maksudku, oke.Kakak ipar mungkin bisa aku berikan. Tapi, keponakan untuk kalian? Jangan bercanda!" Tukasku.
"Oh, jangan terlalu yakin, Edward. Akhir-akhir ini aku sering mendapat kilasan seperti seorang anak kecil," ujar Alice dengan dahi berkerut. "Seorang anak perempuan yang sangat rupawan dan sangat mirip denganmu, Edward. Aku memang kurang jelas melihatnya, tapi siapa tahu saja ini anakmu?"
Perkataan Alice membuat semua yang mendengarnya melongo, terlebih lagi aku.
"Hei, kau punya anak, bung!" Seru Emmett.
"Itu tidak mungkin, sayang," ujar Jasper lembut pada Alice.
"Yeah, vampire tidak bisa punya anak, Alice," ujar Rosalie dengan nada seperti mencari pembenaran.
Aku merasa sedikit kasihan pada Rosalie. Aku sangat tahu bahwa sejak masa manusianya, Rosalie sangat menginginkan seorang anak. Tapi seperti kata Rosalie, vampire tidak bisa punya anak.
"Yah, vampire memang tidak bisa punya anak. Tapi manusia bisa kan?" Ujar Alice sambil mengangkat bahu.
Seperti ada lampu menyala dalam kepalaku saat mendengar ucapan Alice. "Maksudmu apa aku dan seorang manusia akan memiliki seorang anak?"
"Itu gila, Alice," ujarku mengakhiri semua pemikiran tidak masuk akal ini.
"Yah," kata Alice lambat-lambat. "Kita tidak tahu kan?"
Aku terpaku menatap Alice. Aku? Dengan seorang manusia? Akan memiliki seorang anak? Itu mustahil!