Chapter 3
"Hai, namaku
Tanya."
Tanya mengulurkan
tangannya. "Namamu Edward kan?"
Aku menatapnya dengan
sedikit curiga. Apalagi kalau yang dikatakan Rosalie itu benar. Aku akan lebih
suka jika menjaga jarak dengan gadis ini.
'Ayolah, kenapa dia tidak
mau menjabat tanganku?' Sebuah suara muncul lagi dalam pikiranku. Suara yang
sama dengan yang kudengar tadi. Sekarang aku tahu bahwa itu adalah suara dari
pikiran Tanya.
Aku menatap tangan Tanya
yang masih terulur ke arahku, kemudian menatap matanya yang memandangku dengan
berharap.
"Ya, aku Edward,"
jawabku tanpa menyambut uluran tangan Tanya.
Tanya terlihat kecewa
ketika menarik kembali tangannya. Senyumnya sedikit memudar ketika menatapku
lagi.
"Kau terlihat tidak
suka berada disini. Kenapa? Apa ada yang salah?"
Aku sama sekali tidak
menduga dia akan menanyakan hal seperti itu. Sepertinya dia mengatakan itu
tanpa memikirkannya karena aku tidak mendengar apapun dari pikirannya.
"Kurasa, itu bukan
urusanmu," kataku dengan sedikit senyum yang dipaksakan dan nada yang
mengutarakan bahwa aku sedang tidak ingin diganggu. Aku berharap Tanya tahu
maksud dari nadaku itu.
"Maaf jika aku
mengganggu," ujarnya. Aku salah jika berpikir akhirnya dia menyadari bahwa
aku merasa terganggu, karena kemudian dia melanjutkan, "aku hanya ingin
mencoba untuk mengenalmu. Kau akan tinggal disini selama beberapa waktu kan?
Jadi kupikir, bukankah lebih baik kita berteman? Aku sudah berteman dengan
Alice dan Rosalie. Yah, walaupun tampaknya aku dan Rosalie tidak cocok,"
ujar Tanya dengan getir pada kalimat terakhir.
Oh, rupanya Tanya dan
Rosalie sependapat bahwa mereka tidak akan cocok. Tanya dan Rosalie memang
sama-sama cantik dan rupawan. Sulit mengatakan siapa yang lebih cantik di
antara mereka. Aku menatap Tanya dengan maksud menilai ketika kusadari bahwa
itu tindakan bodoh karena aku mendengar pikiran Tanya berkata, 'Dia menatapku.
Kenapa dia menatapku seperti itu. Apakah mungkin dia—oh, dia menyukaiku?'
Ugh dengan segera aku
mengalihkan pandanganku ke arah lain dan aku mendengar pikiran Tanya mendesah
kecewa. Aku benar-benar ingin segera melepaskan diri dari gadis ini.
"Kenapa kau sendirian
saja? Tidak bersama dengan saudara-saudaramu yang lain?"
"Tidak, mereka mereka
punya urusan sendiri," jawabku datar.
"Oh, jadi benar kukira
bahwa saudara-saudaramu yang lain itu berpasangan? Kulihat tadi mereka keluar
berdua-dua. Alice dengan Jasper, Rosalie dengan Emmett, benar?" ujar Tanya
sambil tersenyum.
"Ya," jawabku
pendek.
"Kenapa kau sendiri?
Apa kau belum menemukan pasanganmu?" Oh sudah kuduga, Tanya pasti akan
segera menanyakan ini. Dan aku sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan kami
nanti.
"Itu bukan
urusanmu," jawabku ketus.
"Ayolah, Edward. Tidak
perlu segalak itu padaku. Siapa tahu saja aku bisa membantu?" Tawarnya.
Aku mendengus tertawa.
"Bukannya aku tidak menghargai niatmu, Tanya. Tapi, maaf. Kurasa aku tidak
membutuhkan bantuan siapapun."
"Kau yakin,
Edward?" Tanya semakin mendekat padaku. Aku mulai merasa terganggu. Aku
sangat tidak menyukai topik pembicaraan ini.
"Sangat yakin,
Tanya."
"Kau tidak membutuhkan
siapapun? Tidak membutuhkan pasangan? Tidakkah kau merasa..."
membutuhkanku?, kata-kata Tanya berakhir didalam pikirannya, tapi aku bisa
mengetahuinya, tentu saja.
"Tidak, Tanya!"
Jawabku dengan tegas.
Aku merasa sedikit bersalah
melihat kekecewaan yang merayapi wajah Tanya. Tapi Tanya tidak juga beranjak
pergi menjauh dariku. Dia tetap berada di tempatnya, yang berjarak hanya
sekitar 30cm dariku.
"Baiklah, aku
mengerti," kata Tanya akhirnya. "Tapi aku berharap setidaknya kita
bisa menjadi teman."
Aku berpikir sejenak,
menatap wajah Tanya yang tampak sangat berharap. "Tentu saja, Tanya,"
jawabku sambil tersenyum.
Baru saja aku menjawab
begitu, aku sudah merasa menyesalinya lagi karena pikiran Tanya berkata,
'Bagus, teman adalah awal mula yang baik. Dekati dia perlahan adalah cara
paling baik, kurasa.'
Bagus juga, pikirku getir.
Jadi dia belum menyerah tentang aku? Kuanggap pertemanan yang dia maksud ini
adalah jebakan.
-o-O-o-
"Jadi?"
"Apa maksudmu,
Rosalie?" Tanyaku malas.
Saat ini hari sudah berubah
menjadi malam. Aku dan Rosalie memutuskan untuk berburu di hutan belantara
teritori keluarga Denali. Tadinya Tanya menawarkan untuk menemani dengan alasan
bahwa aku dan Rosalie belum mengenal daerah hutan belantara itu. Tapi untunglah
yang akan pergi denganku ini adalah Rosalie, dia menolaknya dengan keras, yang
menyebabkan dirinya sempat bersitegang dengan Tanya sebelum kami berangkat
berburu.
"Jangan berpura-pura
tidak tahu, Edward. Kau jelas bisa membacanya dalam pikiranku," tukas
Rosalie.
"Tentu saja yang
kumaksud juga pikiran dalam kepalamu itu. Apa maksudmu bertanya seperti
itu?" Sergahku jengkel.
'Aku hanya ingin tahu,
Edward. Apa kau menyukainya? Kulihat daritadi dia terus berusaha mendekatimu.'
Pikiran Rosalie tampak sangat tidak suka.
"Sudahlah, Rosalie.
Aku tidak menyukainya. Berapa kali harus kukatakan? Walaupun dia terus
mendekatiku, tapi aku tidak akan merubah pikiranku."
"Aku senang
mendengarnya, Edward," aku Rosalie. "Aku sangat tidak menginginkan
dia menjadi saudaraku."
"Kau sudah
mengatakannya sekitar Sembilan belas kali hari ini, Rose."
"Kalau begitu aku akan
mengatakan untuk kedua puluh kalinya, aku tidak suka kalau harus bersaudara
dengannya. Tidak, Edward."
"Baiklah, Rose. Dua
puluh kali itu sudah lebih dari cukup," gumamku sambil tertawa pelan.
Rosalie juga menanggapinya dengan tawa merdu.
Kemudian kami melanjutkan
perburuan kami. Hutan belantara wilayah keluarga Denali ini benar-benar sangat
luas. Aku dan Rosalie berhasil mendapatkan lima ekor rusa jantan untuk
memuaskan rasa haus kami.
Ketika tiba saatnya untuk
pulang kembali ke rumah keluarga Denali, aku dan Rosalie memutuskan untuk
berlomba lari. Kami sudah berjalan cukup jauh ke dalam hutan belantara, jadi
jarak yang diperlukan untuk kembali ke rumah keluarga Denali pun cukup panjang,
bahkan untuk ukuran kecepatan vampire.
Aku dan Rosalie
tertawa-tawa dalam usaha kami untuk saling mengalahkan yang lain. Terkadang
dengan sengaja salah satu dari kami menubruk yang lain sehingga akan mengurangi
kecepatan yang ditubruk dan memberi kesempatan bagi yang menubruk untuk melesat
jauh meninggalkan yang satu.
Saat rumah keluarga Denali
sudah terlihat oleh mata, aku melihat siluet seorang gadis berdiri di depan
rumah seolah menungguku dan Rosalie. Atau mungkin memang begitu, pikirku ketika
mennyadari bahwa gadis itu adalah Tanya. Rambut pirang ikalnya berpendar pucat
seperti stroberi.
Rosalie yang sedang
tertawa-tawa bersamaku segera berhenti melihat siapa yang berada di depan
rumah. Seketika wajah Rosalie langsung berubah menjadi dingin saat menatap
Tanya. Rosalie menatapku dan aku menangkap pikirannya, 'Hati-hati, Edward.'
sebelum kemudian Rosalie berjalan pelan melewati Tanya, yang berdiri angkuh
tanpa mempedulikan Rosalie, dan masuk ke dalam rumah.
"Apa yang kau lakukan
didepan sini, Tanya?" Tanyaku. Hanya untuk sekedar sopan-santun pada tuan
rumah, pikirku.
"Menunggumu
kembali," jawab Tanya singkat.
"Aku merasa sangat
tersanjung untuk itu, Tanya," kataku sambil tersenyum kecil.
"Ada yang ingin
kubicarakan denganmu, Edward," ujar Tanya merdu.
"Apa yang membuatku
mendapat kehormatan dari tuan rumah malam-malam begini?" Tanyaku, masih
dengan senyum.
Tanya berjalan mendekatiku
dan berhenti tepat di depanku, hanya berjarak sekitar 15cm. Tanya tidak lebih
tinggi dariku, sehingga dengan jarak sedekat ini, dia harus mengangkat wajahnya
untuk bisa menatapku.
"Kau bisa membaca
pikiran." Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Dia sudah mengetahui bahwa
aku bisa membaca pikiran.
"Ya," jawabku
singkat. Entah mengapa senyumku justru semakin mengembang mendengarnya.
"Kau bisa membaca
pikiranku." Lagi-lagi itu adalah pernyataan. Dia tahu! Aku merasa senyumku
mengembang semakin lebar.
"Jadi, kau sudah
tahu," tuduh Tanya akhirnya.
"Ya!" Seruku
senang. Walaupun aku juga tidak tahu kenapa aku berkata seperti itu. Sebenarnya
aku juga merasa kurang jelas dengan apa yang dimaksud oleh Tanya, tapi mulutku
seolah bergerak sendiri. Aku mencoba melihat kedalam pikiran Tanya, tapi kurasa
Tanya sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan apa-apa.
"Jadi, kau tahu? Kau
tahu tapi kau diam saja? Kau tahu tapi kau tidak menanggapi apa-apa? Kau sama
sekali tidak mengatakan apapun padahal kau tahu kalau—aku menyukaimu?"
Jerit Tanya. Nada kekecewaan terdengar dari setiap suku katanya. Senyumku
menghilang dalam sekejap mendengarnya.
Jadi itukah yang dia
maksud? Oh, tidak.
"Kenapa?" Tanya
bertanya dengan lemah.
Aku tidak tahu harus
menjawab apa. Aku juga tidak tahu apa yang dia harapkan dariku dengan
jawabanku. Aku memilih untuk diam dan membiarkannya menumpahkan kekesalannya.
Ya, aku tahu dia kesal. Entah kesal karena apa.
Tanya menatapku dengan
tajam. "Kau tidak menyukaiku?"
Tidak! Seharusnya aku bisa
menjawab itu dengan mudah, tegas dan lantang. Tapi mulutku seolah terkunci. Jadi
aku hanya diam menatapnya.
"Kau tidak
menyukaiku," gumamnya kecewa. Rupanya dia menganggap absennya kata-kataku
sebagai jawaban 'ya' untuk pertanyaannya. "Kenapa?" Lagi-lagi dia
bertanya. "Kau menyukai orang lain?"
"Tidak,"
lagi-lagi mulutku melontarkan jawaban tanpa persetujuanku.
"Lalu kenapa? Kenapa
kau tidak menyukaiku, Edward?" Tuntut Tanya.
Aku kembali terdiam. Otakku
sibuk memikirkan jawaban yang tidak akan menyakiti Tanya. Aku tidak ingin
membuatnya bersedih, walaupun aku tidak menyukainya. Aku tidak ingin siapapun
bersedih karena diriku.
"Kau sangat cantik
Tanya, oh kau tahu itu benar," kataku ketika aku melihat dia membuka mulut
untuk sesuatu yang terlihat seperti membantah. "Tidak perlu milyaran
bintang untuk mengatakan bahwa kau sangat cantik. Tidak perlu mencari puluhan
gadis cantik atau vampire cantik lainnya untuk mengatakan bahwa kau adalah yang
paling cantik (kecuali Rosalie, tentunya, tambahku dalam hati)."
Aku tersenyum lembut pada
Tanya. Tanganku terangkat dan membelai pelan rambut pirang ikalnya.
"Kau hanya membutuhkan
seseorang yang benar-benar bisa melihat itu semua, Tanya. Akan ada seseorang
yang bisa melihatmu lebih baik daripada sekedar kau dalam pandanganku. Bukan
berarti aku memandang tidak baik tentangmu. Jangan sampai hanya karena aku, kau
kehilangan kepercayaan dirimu," kataku.
Tanya menatapku dengan
pandangan yang sukar di artikan. Entah dia menerima kata-kataku atau
kata-kataku justru membuatnya tersinggung.
"Aku tidak akan
menyerah," katanya mantap.
Aku mengerutkan kening tanda
tidak mengerti dan Tanya mengulangi kata-katanya.
"Aku tidak akan
menyerah, Edward."
to be continue
No comments :
Post a Comment
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ