Chapter 4
"Aku tidak akan
menyerah, Edward."
Aku bisa melihat mata Tanya
yang menyala penuh tekad saat mengatakan bahwa dia tidak akan menyerah. Entah
mengapa, aku tersenyum mendengar kata-katanya. Mungkinkah aku hanya ingin menggodanya?
Oh kuputuskan untuk sedikit 'bermain-main' dengan vampire-pantang-menyerah ini.
"Maukah kau
membuktikannya, Tanya?" Seringaiku.
Tanya mengerjap mendengar
tantanganku. "Apa?"
"Kau serius,
Edward?" Tanyanya lagi kurang percaya.
Aku tersenyum untuk
menjawab dan Tanya mengartikan itu sebagai 'ya'.
"Baiklah, akan
kubuktikan padamu. Aku pasti bisa mengambil hatimu. Tunggu saja waktunya,
Edward. Oh ini hanya masalah waktu," ujar Tanya dengan riang. Senyum lebar
kembali tertempel di wajah cantiknya.
"Akan kutunggu,
Tanya," tantangku.
"Yeah, akan kubuktikan
asal kau tidak terus menerus menghindariku, Edward," ujar Tanya sedikit
galak. "Percuma saja kau memberiku kesempatan untuk mengambil hatimu tapi
kau terus menjauh dan menghindariku."
Aku terkekeh mendengarnya.
"Baik, kuberi kau kesempatan. Tapi aku tidak janji akan berpaling
padamu."
"Ouch, itu
menyakitkan, Edward. Seolah kau mengatakan bahwa semua usahaku akan
sia-sia," gurau Tanya pura-pura tersinggung.
" Baiklah," aku
terkekeh. "Aku mau masuk sekarang."
"Aku juga!" Seru
Tanya riang. "Ayo!" Tanya menarik tanganku dan mengajakku masuk
sambil tertawa-tawa.
Suasana di ruang keluarga
Denali tampak hangat. Carlisle, Esme, Eleazar dan Carmen tampak sedang
berbincang-bincang. Kate dan Irina berkumpul bersama Rosalie, Emmett, Jasper
dan Alice. Begitu aku dan Tanya memasuki ruangan, semua pandangan vampire dalam
ruangan itu terarah pada kami berdua, apalagi dengan tanganku yang berada dalam
genggaman Tanya. Rosalie menatap tajam Tanya dan langsung melengos begitu
melihat Tanya menyunggingkan senyum kemenangan.
Aku sendiri tidak tahu apa
yang sekarang membuatku sedikit luluh di hadapan Tanya. Padahal sampai tadi
sore aku masih begitu dingin padanya. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda
dalam diri Tanya dan tidak ada salahnya jika aku memberinya kesempatan.
"Ah, Edward, kau sudah
pulang rupanya," sapa Carlisle dengan senyumnya yang lebar. Esme dan
Carmen juga tersenyum.
"Apakah ada eh
perkembangan baru?" Tanya Eleazar. Matanya menatap tanganku yang masih
digenggam oleh Tanya.
Dengan senyumku yang biasa,
perlahan aku melepaskan tanganku dari Tanya. Aku bisa merasakan kekecewaan
Tanya ketika aku menarik tanganku. Eleazar juga tampak sedikit terkejut melihat
aku langsung melepaskan tanganku.
"Tidak. Tidak ada apa-apa,
Eleazar. Aku hanya baru saja meluruskan sesuatu dengan Tanya," senyumku.
"Iya kan, Tanya?"
"Eh iya," jawab
Tanya.
"Ah begitu rupanya.
Yah tidak apa-apa. Aku senang jika kalian semua bisa akrab dan kita bisa
menjadi keluarga yang baik," ucap Eleazar. Lagi-lagi aku menangkap arti
tersembunyi dalam kata 'keluarga' yang di ucapkan oleh Eleazar. Sepertinya
Tanya juga mengerti maksud tersembunyi dari Eleazar, tapi dia hanya tersenyum
senang.
"Aku juga merasa
senang jika itu bisa terwujud, Eleazar," ucap Tanya riang.
Aku bisa mendengar pikiran
Tanya berkata, 'Aku pasti bisa membuatmu berpaling padaku, Edward. Lihat saja
nanti.'Sedangkan pikiran Rosalie berkata, 'Oh awas saja kalau sampai Edward
terpengaruh oleh si centil ini. Akan ku ajak Tanya bertarung dan kurobek
lehernya.'
Aku sedikit tersentak dan
menatap Rosalie yang sedang menatapku dan Tanya bergantian sambil memamerkan
taring-taringnya yang tajam.
'Kau dengar itu kan,
Edward?' Kata suara dari pikiran Rosalie. Aku hanya mendengus untuk menjawab
dan Rosalie menyeringai semakin lebar.
"Edward."
Tiba-tiba Alice sudah berada di sebelahku. "Ada yang ingin
kubicarakan."
Aku menatap Alice dan
mencoba membaca pikirannya, berusaha mencari tahu apa kira-kira yang ingin
makhluk mungil ini bicarakan. Tapi aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang
bisa memberiku petunjuk tentang apa yang akan dibicarakan Alice. Oh—bagus,
makhluk kecil ini sudah semakin pintar menyembunyikan pikirannya. Latihan
selama bertahun-tahun mungkin?
"Baiklah, Alice,"
ujarku dengan setengah menggerutu. Alice tersenyum pada Tanya dan menarikku
menjauh.
Alice membawaku menuju
halaman belakang. Saat kami melewati Rosalie, Emmett dan Jasper, mereka
langsung mengikuti aku dan Alice. Kupikir Alice akan melarang mereka, tapi
ternyata Alice hanya diam saja dan membiarkan mereka mengikuti kami.
"Ada apa sih,
Alice?" Tanyaku mulai kesal. "Kenapa sampai sejauh ini?"
Alice terus menarik
tanganku sampai kami masuk ke hutan di belakang rumah keluarga Denali. Rumah
ini memang terletak di tengah hutan.
"Baiklah, disini
saja." Alice akhirnya berhenti menarik tanganku dan berbalik menghadapiku.
Mata polosnya menelusuri wajahku dan membuatku sedikit mengernyit.
"Karena sekarang sudah
jam dua belas malam..." Kata-kata Rosalie terpotong oleh Alice.
"Biar aku yang
mengatakannya, Rose!" Seru Alice agak kesal. Rosalie nyengir dan
mengangkat bahunya.
"Ada apa, Alice?"
Aku mulai penasaran.
"Selamat Ulang Tahun,
Edward!" Seru Alice girang. Aku sedikit terkejut mendengarnya. Ulang
tahun?
"Apa? Ulang
tahun?" Tanyaku bingung.
"Ya, sekarang sudah
tanggal 20 Juni, Edward. Jadi, selamat ulang tahun yang ke 68 secara
manusia," ucap Alice nyengir senang. Aku mendengar Emmett terkekeh dan
pikirannya berkata, 'Sudah jadi kakek rupanya, bung?'
Aku melirik sebentar pada
Emmett sebelum Alice mengambil kembali perhatianku.
"jadi saat kau dan
Rosalie sedang berburu, aku, Jasper dan Emmett meminjam mobil Carlisle dan
turum ke kota. Kami menemukan hadiah yang cocok untukmu—"
"Alice, kalau kau
hanya mau mengucapkan selamat ulang tahun, kenapa harus membawaku ke tengah
hutan seperti ini? Kau tahu kan disini banyak nyamuk?" Kataku sedikit
menggoda.
Emmett tertawa keras-keras
mendengar ucapanku. "Oh, peduli apa dengan nyamuk, Edward? Toh kita juga
sama seperti makhluk-makhluk kecil itu. Sama-sama menghisap darah."
Alice menatap Emmett dengan
tatapan menegur. Tetapi saat Alice kembali menatapku, aku yakin dan aku berani
bersumpah aku melihat matanya berkilat jahil.
"Oh, kau lebih suka
aku mengatakannya di dalam? Di depan semuanya dan menyerukan lagu selamat ulang
tahun untukmu? Yang ke-68, eh?" Kekeh Alice. "Di hadapan Tanya?"
Aku berpikir sebentar
dengan jawaban Alice. Otakku masih sulit untuk mencerna sesuatu.
"Kalau kau mau Tanya
tahu bahwa kami merayakan ulang tahunmu, silakan saja. Tapi pikirkan apa yang
kira-kira akan dia lakukan kalau tahu bahwa kau berulang tahun," tukas
Rosalie tidak sabar. "Memberimu ciuman selamat di hadapan kami semua
mungkin? Dan meresmikan hubungan kalian? Ah, manis sekali, Edward."
Aku melotot kesal ke arah
Rosalie yang tersenyum masam padaku. Oke, alasannya memang masuk akal dan bisa
diterima.
"Jadi? Apa
hadiahku?" Pertanyaanku ini sepertinya bisa membuat Alice melompat-lompat
saking girangnya. Adik menyebalkanku ini memang selalu menjadi yang paling
bersemangat jika ada suatu perayaan.
"Sebenarnya aku mau
menghadiahkan jodoh untukmu, Edward," goda Emmett. Oh, tidak. Itu lagi
yang dikatakannya? Benar-benar mengesalkan. "Tapi setelah ku pikir lagi,
kau kan sudah punya Tanya sekarang."
Aku benar-benar tidak sabar
lagi. Kutinju Emmett dan ku ajak bergulat.
"Hadiahku cukup dengan
mengijinkanku menghajarku, Emmett. Sialan kau!" Geramku.
"Sudah cukup, kalian
berdua! Kalian benar-benar membuatku kesal," tukas Alice jengkel. Dia
memang akan langsung sewot jika acaranya dirusak.
"Maaf, Alice,"
gumamku sambil tetap melotot pada Emmett yang masih terkekeh senang karena
sudah membuatku kesal.
"Kemarilah, Edward.
Aku ingin menunjukkan hadiahmu," ajak Alice sambil mengulurkan tangannya
padamu.
Aku meraih tangan Alice dan
membiarkannya membawaku berlari lebih jauh ke dalam hutan. Alice terus berlari
selama beberapa saat dan berhenti di sebuah tanah kosong. Disitu sudah ada satu
bangunan kecil yang tampaknya masih baru.
"Kalian memberiku
rumah? Tapi kecil sekali?" Tanyaku bingung.
"Bukan, Edward. Dan
itu bukan rumah. Hadiahmu ada di dalam sana," ujar Alice sambil membawaku
ke arah rumah itu. Alice membuka kuncinya dan membuka lebar-lebar rumah itu
sampai aku bisa melihat sesuatu yang tertutup kain.
"Mobil?" Desahku
pelan.
"Ya! Lihatlah, Edward.
Aku yakin kau akan suka!" Seru Alice dan dengan semangat dia menarik kain
itu.
Aku sedikit terkagum
melihat mobil yang masih berkilat itu. Perlahan aku berjalan mendekati mobil
hadiahku dan menyentuhnya. Badan mobilnya masih licin dan berkilau. Silver
Volvo ini akan menjadi mobil kesayanganku.
"Kau suka,
Edward?" Tanya Alice.
Aku menoleh pada Alice dan
sedikit berlari mendekatinya. Ketika aku mencapainya, aku mengangkat tubuh
mungilnya dan kuputar di udara. Aku mengecup pipinya dengan sayang.
"Sangat suka, Alice. Thank you, sister."
Alice terkikik senang
ketika aku mengecup pipinya. Rosalie mendekatiku dan seakan tidak mau kalah
dari Alice, dia memelukku dan mencium pipiku. "Selamat ulang tahun,
Edward."
Aku balas mengecup pipi
Rosalie dan kemudian menatap Jasper. "Hei, terima kasih juga untukmu,
Rose. Jasper"
Jasper memberikan anggukan
dan senyumannya. "Selamat ulang tahun, Edward."
"Tapi, tidak ada
terima kasih untukmu, Emmett. Kuanggap ini sebagai permintaan maafmu karena
telah mengerjaiku terus selama beberapa puluh tahun terakhir," tambahku
sambil nyengir menatap Emmett.
"Terserah kau sajalah,
Edward," ujar Emmett sedikit menggerutu.
Aku tertawa melihat Emmett
dan kemudian merangkul kedua saudara perempuanku.
"Jadi, apa yang bisa
kulakukan untuk membalas kebaikan kalian?" Tanyaku.
"Memberiku seorang
kakak ipar?" Usul Alice.
"Memberiku seorang
keponakan?" Sambung Rosalie.
Aku mengeluh dan kedua
saudariku ini terkikik senang.
"Jangan meminta
sesuatu yang tidak bisa aku berikan. Maksudku, oke.Kakak ipar mungkin bisa aku
berikan. Tapi, keponakan untuk kalian? Jangan bercanda!" Tukasku.
"Oh, jangan terlalu
yakin, Edward. Akhir-akhir ini aku sering mendapat kilasan seperti seorang anak
kecil," ujar Alice dengan dahi berkerut. "Seorang anak perempuan yang
sangat rupawan dan sangat mirip denganmu, Edward. Aku memang kurang jelas
melihatnya, tapi siapa tahu saja ini anakmu?"
Perkataan Alice membuat
semua yang mendengarnya melongo, terlebih lagi aku.
"Hei, kau punya anak,
bung!" Seru Emmett.
"Itu tidak mungkin,
sayang," ujar Jasper lembut pada Alice.
"Yeah, vampire tidak
bisa punya anak, Alice," ujar Rosalie dengan nada seperti mencari
pembenaran.
Aku merasa sedikit kasihan
pada Rosalie. Aku sangat tahu bahwa sejak masa manusianya, Rosalie sangat menginginkan
seorang anak. Tapi seperti kata Rosalie, vampire tidak bisa punya anak.
"Yah, vampire memang
tidak bisa punya anak. Tapi manusia bisa kan?" Ujar Alice sambil
mengangkat bahu.
Seperti ada lampu menyala
dalam kepalaku saat mendengar ucapan Alice. "Maksudmu apa aku dan seorang
manusia akan memiliki seorang anak?"
"Itu gila,
Alice," ujarku mengakhiri semua pemikiran tidak masuk akal ini.
"Yah," kata Alice
lambat-lambat. "Kita tidak tahu kan?"
Aku terpaku menatap Alice.
Aku? Dengan seorang manusia? Akan memiliki seorang anak? Itu mustahil!
No comments :
Post a Comment
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ